Berrbahagia.com – Dalam kehidupan sehari-hari, kita hidup dengan dua mekanisme yang kerap bertukar posisi: naluri dan nurani. Yang satu cepat bereaksi, satunya lagi pelan memberi makna. Masalahnya, dalam banyak situasi, manusia lebih sering digerakkan oleh naluri daripada oleh nurani.
Sedikit saja ada yang terasa janggal, kita reaktif. Ada kalimat yang menyinggung, kita defensif. Ada kebiasaan yang berubah, kita gelisah. Reaksi itu muncul hampir otomatis, seperti refleks tubuh ketika disentuh api.
Seperti contoh yang dekat dengan sehari-hari kita, sedikit saja ada yang melenceng dari kebiasaan, kita langsung bereaksi. Grup WhatsApp rame, timeline panas, status dibuat panjang. Kita merasa perlu meluruskan. Kita merasa perlu membela. Kita merasa perlu hadir. Naluri mengambil alih sebelum nurani sempat berbicara.
Tapi ketika panggilan yang benar-benar penting datang setiap hari, respons kita sering biasa saja. Barangkali itulah naluri bekerja.
Naluri memang diciptakan untuk melindungi. Ia menjaga harga diri, menjaga posisi, menjaga rasa aman. Ketika ada sesuatu yang terasa mengancam, naluri langsung mengambil alih. Kita tersinggung sebelum sempat memahami duduk persoalan.
Berbeda dengan naluri, nurani tidak bekerja secepat itu. Tidak berteriak juga tidak tergesa. Suaranya pelan yang sering kali baru terdengar ketika kita mau diam sejenak. Jika naluri membuat kita cepat tersinggung, nurani justru membuat kita mampu tersentuh.
Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya
Saya teringat satu kisah dalam buku Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya karya Rusdi Mathari. Tentang Cak Dlahom yang suatu malam mengumandangkan adzan di luar waktunya. Warga berdatangan ke masjid dengan wajah kesal. Mereka merasa ada yang tidak beres. Mereka ingin menegur. Ironinya, pada waktu adzan yang sebenarnya, masjid itu sering lengang.
Adzan lima waktu itu tidak dramatis, ia berkumandang secara konsisten, tenang, dan teratur. Justru karena tidak dramatis itulah ia terasa biasa. Sementara keganjilan, sekecil apa pun, langsung memicu respons.
Dari kisah itu lahir satu pertanyaan : mengapa kita lebih cepat bergerak karena merasa terganggu, dibanding karena merasa terpanggil?
Jika ditarik lebih jauh, tersinggung semata soal citra. Kita marah karena merasa diremehkan. Kita kesal karena merasa dipertanyakan. Kita sibuk membela posisi. Namun ketika panggilan untuk memperbaiki diri datang, respons kita sering tertunda.
Acapkali yang ada dalam diri kita hanya ingin dianggap peduli, tetapi belum tentu benar-benar peduli. Kita ingin terlihat religius, tetapi belum tentu responsif pada yang sakral. Anehnya, ingin tampak kritis, tetapi jarang mengkritisi diri sendiri.
Tak Ada Yang Salah dengan Naluri
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan naluri. Tanpanya, manusia tidak punya batas. Namun ketika naluri terlalu dominan dan nurani jarang diajak berbicara, maka kesadaran akan lenyap dengan kesiaagan.
Barangkali di situlah letak kegelisahannya. Kita membanggakan diri sebagai makhluk bernurani, tetapi dalam praktiknya lebih sering digerakkan oleh naluri yang sensitif.
Ketika nurani benar-benar bekerja, kita tidak bisa lagi sepenuhnya menyalahkan keadaan. Kita harus mengakui bahwa kita mampu menjadi lebih baik—dan itu berarti kita juga bertanggung jawab untuk melakukannya.
Sebab jika yang cepat menyala hanya ego, sementara hati tetap redup, jangan-jangan yang kita jaga bukan kebenaran, melainkan kenyamanan diri sendiri.