Orkes Silampukau merilis Stambul Arkipelagia Vol. 3 pada 2 Oktober 2026. Album ini menjadi penutup trilogi musikal yang dikerjakan sejak awal 2025, sekaligus merampungkan semesta fiksi bernama Arkipelagia, sebuah negara maritim yang dibangun untuk merekam tragedi sistemik, ketimpangan, dan kekuasaan yang terus memelihara masalah demi kepentingan segelintir elite.
Lewat proyek ini, Kharis Junandharu membawa Orkes Silampukau ke wilayah eksperimental yang memadukan musik, sejarah kebudayaan, dan kritik sosial. Arkipelagia menjadi ruang untuk menceritakan pengkhianatan, kerusakan lingkungan, eksodus, hingga propaganda politik. Seluruhnya disusun dalam rangkaian lagu yang tidak terpaku pada satu genre.
Musik dalam Stambul Arkipelagia Vol. 3 bergerak dari manouche-horeg, irama Latin, disko 90-an, sampai sentuhan musik klasik. Pengaruh tonil masa lampau seperti Komedie Stamboel dan Dardanella juga menjadi pijakan dalam penggarapannya.
Eksperimen tersebut berangkat dari keyakinan Kharis bahwa musik Nusantara sejak awal tumbuh melalui pertemuan berbagai tradisi. Gagasan tentang kemurnian budaya justru dianggap mengaburkan sejarah panjang percampuran yang membentuk musik di Indonesia.
Menghidupkan Kembali Sejarah Stambul
Salah satu gagasan utama Stambul Arkipelagia adalah mengangkat kembali tradisi stambul, kepingan sejarah pertunjukan modern yang menurut Kharis kerap tersisih dari narasi besar kebudayaan Indonesia.
Komedie Stamboel didirikan di Surabaya pada 1891 oleh Auguste Mahieu. Sementara itu, Dardanella berasal dari Sidoarjo dan dikenal sebagai salah satu kelompok teater penting pada masa kolonial. Keduanya tumbuh di kawasan yang berdekatan, tetapi sejarahnya tidak selalu mendapat tempat yang sepadan dalam pembicaraan mengenai perkembangan seni pertunjukan Indonesia.
Dalam catatan artistiknya, Kharis menilai marginalisasi tersebut berkaitan dengan sentimen nasionalisme yang berlebihan, terutama karena para perintisnya memiliki latar keturunan Eropa dan Tionghoa. Ia melihat stambul dan teater musikal sebagai pengingat bahwa perkembangan kesenian modern di Nusantara juga dibentuk oleh pertemuan lintas budaya, bukan hanya tradisi yang dianggap berasal dari satu akar.
Jarak lebih dari seabad sejak kemunculan Komedie Stamboel menjadi alasan bagi Kharis untuk menengok kembali warisan tersebut. Ia ingin membongkar, memodifikasi, dan memperbaruinya agar bisa berbicara tentang persoalan masa kini.
Kharis bahkan mengibaratkan proses itu sebagai upaya “memanggil pulang arwah kesenian” yang sempat tersingkir dari sejarah. Dari sana, ia berangkat dengan satu kecurigaan yang terus menjadi dasar pengerjaan proyek: hibriditas merupakan bagian penting dari DNA kesenian musik Nusantara.
Gagasan tersebut bukan tanpa pijakan. Dalam pandangan Kharis, perjalanan musik Indonesia menunjukkan bagaimana percampuran berbagai tradisi melahirkan bentuk ekspresi baru.
Benyamin Sueb, misalnya, mempertemukan Gambang Kromong dengan elemen blues dan rock. Rhoma Irama mengembangkan dangdut melalui pertemuan ritme India dan Melayu dengan distorsi rock. Campursari juga mempertemukan laras pentatonis gamelan Jawa dengan sistem diatonis dari instrumen elektronik seperti keyboard dan gitar.
Contoh lain muncul dalam irama lenso yang menyerap pengaruh musik Latin, eksplorasi jazz dan blues dengan idiom lokal, hingga perkembangan musik populer yang terus menyerap unsur dari berbagai genre. Bagi Kharis, percampuran semacam ini memperlihatkan bahwa musik Indonesia tidak pernah benar-benar terpisah dari pertukaran budaya.
Namun, ia juga membedakan semangat hibriditas dalam penciptaan musik dengan praktik industri yang kerap mengubah percampuran genre menjadi strategi perluasan pasar. Ketika hanya diperlakukan sebagai komoditas, persilangan musik berisiko kehilangan konteks sosial dan kebudayaan yang melatarbelakanginya.
Dalam Stambul Arkipelagia, hibriditas menjadi pendekatan artistik sekaligus cara membaca sejarah. Silampukau memanfaatkan beragam warna musik untuk membangun dunia fiktif yang terasa ganjil, tetapi tetap berhubungan dengan persoalan nyata.
Eksperimen dalam proyek ini tidak berhenti pada aransemen. Kharis juga bermain dengan bahasa Indonesia melalui penciptaan neologisme, penggunaan diksi yang tidak lazim, dan pengabaian terhadap sejumlah konvensi puitika klasik.
Istilah seperti anarkipelagia dan malapelagia menjadi bagian dari kosakata khas dunia Arkipelagia. Kata-kata tersebut digunakan untuk membangun gambaran kekacauan struktural dan keadaan sosial yang memburuk.
Lirik-liriknya juga tidak selalu mengikuti pola pengulangan konvensional. Menurut catatan Kharis, lagu-lagu dalam proyek ini disusun tanpa refrain, kecuali “Dansa S’orang”. Repetisi yang muncul dirancang untuk membawa variasi dan eskalasi tematik, sehingga pendengar mengikuti cerita yang terus berkembang.
Pendekatan tersebut menempatkan bahasa sebagai bagian dari eksperimen utama album. Kata-kata tidak hanya mengikuti melodi, tetapi juga menjadi ruang pertemuan berbagai pengaruh budaya dan cara untuk membongkar realitas.
Sebelas Fragmen Menutup Kisah Arkipelagia
Pada volume ketiga, Arkipelagia kembali menghadirkan sebelas fragmen musikal yang menyentuh beragam bentuk penderitaan. Ada kisah seorang pelancong yang bertemu sosok misterius bernama Al-Muqawim, lagu tentang kerusakan hutan hujan purba, serta cerita sepasang kekasih yang bertahan menghadapi jarak dan konflik yang tidak sepenuhnya mereka pahami.
Fragmen lainnya mengangkat eksodus penduduk kepulauan, kehilangan cinta, alienasi digital, dan tirani psikopolitik. Misteri kematian Al-Muqawim juga menjadi bagian penting dari narasi, terutama ketika sosok martir tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai bahan propaganda oleh rezim yang pernah mengkhianatinya.
Sejumlah kolaborator turut memperkaya lanskap bunyi album. Natasya Elvira mengisi “Stambul Rindu”, sementara Cholil Mahmud hadir sebagai vokalis tamu dalam “Lagu Umum”. Kuntari terlibat di “Pandemonium Ekosida” dengan pendekatan impresionistik untuk menggambarkan kehancuran ekosistem hutan hujan.
Pada sisi instrumentasi, Billy Ario memainkan cello, Dika Chasmala mengisi bagian biola, dan Bhagus Subadie menggarap foley sinematik. Prasimansyah meneruskan pekerjaan tata suara yang sebelumnya ditangani Tommy Respati.
Setelah sekitar dua tahun pengerjaan, Kharis melihat proyek ini sebagai upaya menyusun kembali kepingan sejarah menjadi sebuah artikulasi tentang penderitaan, tragedi, dan kegelisahan masa kini. Ia juga berharap keseluruhan trilogi dapat dinikmati sebagai karya fiksi, ruang untuk sejenak beristirahat dari kenyataan yang terasa semakin menyesakkan.
Pada akhirnya, Stambul Arkipelagia berangkat dari kegelisahan terhadap sistem yang terus mereproduksi ketimpangan, lalu mencari jalan keluar melalui musik. Volume ketiga menjadi penutup perjalanan tersebut sekaligus penegasan atas gagasan yang mendasarinya: kesenian tidak harus tunduk pada batas-batas kemurnian untuk bisa menceritakan pengalaman sebuah bangsa.