Tur ke Malang, Luby Sparks Bikin Penonton Tenggelam dalam Atmosfer Shoegaze

Gitar yang berlapis, atmosfer dreamy, dan dentuman yang sesekali mengundang headbang. Itulah yang dirasakan penonton saat menonton Luby Sparks yang membawa warna alternative rock khas Jepang ke Disclosure Coffee, Malang, Kamis (24/9/2026), dalam rangkaian Sun in the Sparkling Sea Indonesia Tour 2026.

Band yang beranggotakan Natsuki, Erika, Tamio, Sunao, dan Shin itu tampil dalam acara Heartfelt Collective Episode 30. Selama sekitar 45 menit, mereka membawakan 11 lagu yang mengajak penonton menyelami karakter musiknya, dari materi lama hingga single terbaru.

Malam itu dibuka oleh Enamore dengan karakter emo yang terasa kuat. Setelahnya, Beltigs menghadirkan permainan yang lebih pelan dan cenderung dreamy. Dua penampilan tersebut menjadi pengantar sebelum Luby Sparks naik panggung dan membawa suasana ke wilayah musik yang lebih mengawang.

Luby Sparks memulai set dengan “Broken Headphones”, “Stayaway”, dan “Depression”. Tiga lagu pembuka itu disusul “I Disappear” dan “See You”, dua single terbaru mereka. Setelah itu, penampilan berlanjut lewat “Lovebites”, “Nothing Left”, “We Don’t Know Why”, “Faith”, “One Last Girl”, dan “Not Okay”, sebelum ditutup dengan “Honey”.

Pada lima lagu pertama, penampilan mereka masih terasa seperti sedang mencari pijakan. Atmosfer yang dibangun belum sepenuhnya membawa penonton masuk ke dalam musiknya. Suara vokal Erika juga terdengar agak tenggelam di antara lapisan instrumen, sehingga beberapa bagian terasa kurang jelas.

Namun, perlahan suasananya berubah. Permainan gitar dan atmosfer yang terus dibangun mulai terasa lebih mengikat. Penonton ikut larut, sesekali menganggukkan kepala hingga melakukan headbang mengikuti musik yang makin terasa menghanyutkan

Luby Sparks

Nuansa shoegaze menjadi salah satu daya tarik penampilan malam itu. Terutama ketika permainan instrumen dan penggunaan MIDI menghadirkan lapisan suara yang mengingatkan pada atmosfer musik Cocteau Twins. Ada bagian-bagian ketika musik terasa seperti menarik pendengar masuk lebih dalam, sampai perhatian tertuju pada bunyi yang bertumpuk dan suasana yang tercipta di atas panggung.

Luby Sparks sempat menyapa penonton di sela penampilan. Namun, sapaan tersebut tidak terdengar cukup jelas untuk ditangkap. Meski begitu, komunikasi dengan penonton malam itu lebih banyak terbangun lewat musik dan respons mereka terhadap lagu-lagu yang dimainkan.

Secara keseluruhan, penampilan Luby Sparks di Malang terasa menyenangkan, terutama ketika set mulai menemukan alurnya pada bagian pertengahan hingga akhir. Meski vokal Erika sesekali kurang terdengar jelas, lapisan gitar dan atmosfer dreamy yang mereka bangun tetap menjadi kekuatan utama pertunjukan tersebut.

Setelah Luby Sparks menyelesaikan penampilannya, Sunlotus mengambil alih panggung dan menutup malam dengan pendekatan shoegaze yang kental. Efek gitar yang mengambang membuat suasana semakin pekat, seolah mengajak penonton kembali tenggelam dalam lapisan suara.

Namun, momen utama malam itu tetap menjadi milik Luby Sparks. Dalam set singkat berisi 11 lagu, band asal Jepang tersebut memperlihatkan bagaimana musik yang dibangun dari lapisan gitar, vokal, dan atmosfer dapat membuat sebuah pertunjukan terasa seperti perjalanan menuju ruang yang berbeda.

Luby Sparks Kembali ke Indonesia Lewat Rangkaian Tur Lima Titik

Kunjungan ke Malang menjadi bagian dari Sun in the Sparkling Sea Indonesia Tour 2026, rangkaian tur Luby Sparks di Indonesia pada 23–27 September 2026. Setelah terakhir tampil di Indonesia pada 2023, band asal Jepang tersebut kembali menyambangi pendengarnya lewat lima titik, yakni Surabaya, Malang, Yogyakarta, Cikole, dan Jakarta. Rangkaian tur ditutup melalui penampilan mereka di Festival Pestapora, Jakarta, pada 27 September 2026.

Kedatangan kali ini juga membawa materi musik terbaru. Sebelum tur berlangsung, Luby Sparks merilis EP Romeo Is a Dead Man, kemudian meluncurkan single “See You” pada 11 September 2026. Single tersebut hadir dengan karakter shoegaze yang semakin terasa, selaras dengan atmosfer yang mereka bawa ke atas panggung.

Perjalanan musik Luby Sparks sendiri dimulai sejak dibentuk pada 2016. Mereka merilis album debut Luby Sparks pada 2018, yang direkam di London bersama Max Bloom dari Yuck dan Cajun Dance Party sebagai koproduser. Setahun kemudian, single “Somewhere” mendapat sentuhan remix dari Robin Guthrie, gitaris Cocteau Twins.

Pada Mei 2022, mereka merilis album kedua, Search + Destroy, yang diproduseri Andy Savours, sosok yang pernah bekerja dengan sejumlah musisi, termasuk My Bloody Valentine. Album tersebut diluncurkan melalui pertunjukan di WWW X, Shibuya, yang terjual habis pada Juni 2022.

Aktivitas mereka kemudian meluas ke berbagai panggung internasional. Pada 2023, Luby Sparks menjalani tur utama pertama di Amerika Serikat dengan tujuh kota tujuan, disusul tur tujuh kota di China dan penampilan di sejumlah festival, termasuk Joyland Festival 2023 di Indonesia.

Setelah itu, mereka merilis EP Song for The Daydreamers pada Mei 2024 dan Song of The Hazy Memories pada Januari 2025. Pada April 2026, mereka kembali merilis EP berisi empat lagu orisinal.

Dalam tur Indonesia kali ini, Luby Sparks juga berbagi panggung dengan band lokal Sunlotus asal Yogyakarta dan Beltigs dari Bandung. Kehadiran mereka mempertemukan karakter musik Luby Sparks dengan skena independen Indonesia, sekaligus memberi ruang bagi pendengar untuk menyaksikan perbedaan pendekatan musik yang beririsan dalam nuansa shoegaze dan dreamy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *