berrbahagia.com – Bangun pagi tanpa kabar buruk, bisa makan dengan tenang, bertemu orang-orang yang disayang, punya uang untuk membeli sesuatu yang diinginkan, atau sekadar pulang ke rumah tanpa membawa terlalu banyak pikiran. Kelihatannya sepele, ya?
Padahal, hal-hal seperti itu sering banget kita lewati begitu saja. Ya karena memang sudah jadi rutinitas. Bangun, kerja, makan, ketemu orang, pulang, tidur. Besok diulang lagi. Sampai akhirnya sesuatu datang dan bikin semuanya berubah.
Pekerjaan hilang. Hubungan kandas. Rencana berantakan. Isi rekening mulai bikin deg-degan. Atau seseorang yang kita sayang tiba-tiba nggak lagi ada di hidup kita. Lucunya, setelah semua itu terjadi, hal-hal yang dulu terasa biasa malah jadi sesuatu yang kita kangenin.
Dari situ muncul satu pertanyaan yang agak menyebalkan, jangan-jangan kita memang baru sadar betapa berharganya bahagia setelah kesusahan datang?
Ada sesuatu yang menarik dari cara manusia beradaptasi. Kita bisa terbiasa dengan hampir segala hal, termasuk sesuatu yang dulu sangat kita inginkan.
Punya pekerjaan baru mungkin membuat kita senang selama beberapa minggu. Membeli barang impian bisa membuat kita bersemangat berhari-hari. Mendapat pengakuan dari orang lain juga dapat membuat kita merasa berharga.
Namun, setelah beberapa waktu, semua itu perlahan kembali terasa biasa.
Fenomena tersebut dikenal sebagai hedonic adaptation. Gampangnya, manusia cenderung beradaptasi terhadap perubahan dalam hidup sehingga perasaan bahagia atau tidak bahagia yang muncul dari suatu kejadian perlahan kembali mendekati tingkat sebelumnya.
Itulah sebabnya sesuatu yang dulu membuat kita sangat bahagia akhirnya bisa terasa normal.
Proses yang sama juga bisa membuat kita lupa bahwa banyak hal dalam hidup sebenarnya layak dihargai.
Kita terbiasa dengan rumah yang nyaman sampai suatu hari harus tidur di tempat yang tidak kita inginkan. Terbiasa punya seseorang untuk diajak bicara sampai akhirnya harus menghadapi malam sendirian. Terbiasa memiliki uang yang cukup sampai harus menghitung ulang isi rekening sebelum membeli sesuatu.
Kesusahan tidak selalu langsung menghadirkan kebahagiaan. Namun, pengalaman tersebut dapat mengubah cara kita melihat sesuatu yang sebelumnya luput diperhatikan.
Ketika Ukuran Bahagia Berubah
Setelah melewati masa sulit, ukuran kebahagiaan seseorang bisa ikut berubah.
Dulu, bahagia mungkin berarti pergi liburan, membeli barang baru, atau mendapatkan sesuatu yang besar. Setelah menghadapi masa sulit, kebahagiaan bisa sesederhana menerima kabar dari orang yang kita sayangi.
Makan malam bersama keluarga mungkin dulu hanya terasa seperti rutinitas. Setelah lama tak punya kesempatan untuk berkumpul, duduk di satu meja saja bisa terasa begitu istimewa.
Begitu pula dengan tidur nyenyak. Hal yang sebelumnya tidak pernah dianggap penting bisa terasa sangat berharga ketika pikiran terlalu penuh dan tubuh kesulitan mendapatkan istirahat.
Dari sini, salah satu paradoks kehidupan terasa semakin jelas.
Kita sering mengejar kebahagiaan dalam bentuk yang besar, padahal sebagian darinya sudah hadir melalui hal-hal kecil yang berulang setiap hari. Karena terlalu sering mendapatkannya, kita berhenti menyadari nilainya.
Kesusahan kadang membuat kita melihat kembali apa yang selama ini dianggap biasa. Namun, ada satu hal yang perlu diberi batas.
Kita tidak perlu menganggap kesusahan sebagai sesuatu yang harus dialami agar bisa bahagia. Tidak semua luka menghasilkan kebijaksanaan. Tidak semua kehilangan membuat seseorang menjadi lebih kuat. Ada kesedihan yang memang membutuhkan waktu panjang untuk dipulihkan.
Menemukan kebahagiaan setelah melewati masa sulit juga tidak berarti kita harus berterima kasih kepada penderitaan. Kita tetap boleh marah. Tetap boleh kecewa. Tetap boleh menangis dan mengakui bahwa sesuatu memang menyakitkan.
Begitu juga perihal bersyukur, tidak harus berarti menyangkal rasa sakit. Kadang, rasa syukur justru muncul ketika kita mengakui bahwa hidup sedang tidak baik-baik saja, tetapi masih ada satu-dua hal yang membuat kita ingin menjalani hari berikutnya.
Bahagia Tidak Harus Menunggu Semuanya Selesai
Mungkin selama ini kita terlalu sering membayangkan kebahagiaan sebagai garis akhir.
“Nanti kalau masalah ini selesai, aku akan bahagia.”
“Nanti kalau punya uang lebih banyak, aku akan tenang.”
“Nanti kalau hubungan ini berhasil, aku akan merasa cukup.”
“Nanti kalau semuanya sudah beres, baru aku bisa menikmati hidup.”
Nanti, nanti, nanti, dan nanti.
Padahal, hidup jarang benar-benar sampai pada kondisi ketika semuanya sudah beres. Satu masalah selesai, masalah lain muncul. Satu keinginan tercapai, muncul keinginan berikutnya. Kalau kebahagiaan selalu menunggu kehidupan menjadi sempurna, kita mungkin akan terus menundanya.
Kebahagiaan juga bisa muncul ketika masalah masih ada. Hadirnya bisa lewat secangkir kopi pada pagi hari, percakapan singkat dengan teman, lagu yang tiba-tiba terasa tepat, perjalanan pulang yang tenang, atau perasaan lega karena hari ini berhasil dilewati.
Hal-hal kecil tersebut mungkin tidak menyelesaikan masalah. Namun, setidaknya memberi jeda. Dan kadang, jeda itulah yang kita butuhkan untuk kembali berjalan.
Sudahilah Sedihmu yang Belum Sudah
Ada satu penggalan lirik dari sebuah band asa Yogyakarta, FSTVLST dalam lagu “Menantang Rasi Bintang” yang terasa begitu dekat dengan gagasan ini.
“Maka sudahilah sedihmu yang belum sudah, segera mulailah syukurmu yang pasti indah, berbahagialah, berbahagialah!”
Kalimat tersebut terdengar sederhana. Namun, penyuguhannya sangat menarik ketika dibaca pelan-pelan, bukan sebagai perintah untuk buru-buru melupakan kesedihan.
Ada masa ketika kesedihan memang belum selesai. Ada luka yang belum sembuh dan persoalan yang belum menemukan jalan keluar. Kita tidak selalu bisa memaksa diri untuk langsung baik-baik saja.
Namun, mungkin kita tetap bisa mencari satu alasan kecil untuk melanjutkan hidup tanpa harus menunggu semuanya pulih terlebih dahulu.
Penggalan lirik “Segera mulailah syukurmu” tidak harus berarti memaksa diri untuk bahagia.
Mungkin, letaknya lebih dekat dengan keberanian untuk kembali memperhatikan hidup. Menyadari bahwa meski ada sesuatu yang hilang, masih ada sesuatu yang tersisa. Meski hari ini terasa berat, masih ada satu hal kecil yang bisa dinikmati.
Pada akhirnya, kita memang baru memahami sebagian arti bahagia setelah kesusahan datang. Sebab, pengalaman kehilangan dapat membuat kita melihat kembali hal-hal yang selama ini terlalu biasa untuk dihargai.
Tak perlu menunggu hidup sempurna untuk merasa bahagia. Karena bahagia tidak selalu tentang menemukan sesuatu yang baru. Kadang, hanya tentang menyadari kembali bahwa masih ada sesuatu yang layak disyukuri.
Dan kalau hari ini kita belum bisa berbahagia sepenuhnya, tidak apa-apa. Mulai saja dari satu hal kecil. Sisanya, pelan-pelan.