Menghadiri dan Menonton Konser Barasuara Sendirian: Sebuah Perspektif

Malam itu, saya berdiri di festival B yang ramai penonton, suara riuh penonton mengisi udara. Konser Barasuara, salah satu band indie favorit saya, yang juga salah satu guest star dalam acara Romansa Project Festival akhirnya tiba. Meskipun datang sendirian, semangat saya tak surut sedikit pun untuk menyaksikan aksi panggung dari Barasuara.

Saat lampu sorot menyala, suasana menjadi semakin menegangkan. Ya walaupun dikelilingi oleh penonton yang hanya datang untuk menonton penampil Rossa dan Dewa 19, saya tetap bersemangat, dan memfokuskan pandangan ke arah layar LED, yang menyorot Iga Massardi cs.

Berlokasi di Lap. Rampal, Kota Malang, Minggu (7/10/2024). Iga Massardi tampil khas dengan kemeja hitam, kacamata, serta gitar berwarna coklat. Ia naik ke panggung bersama personel lainnya, Gerald Situmorang, TJ Kusuma, dan Marco Steffiano.

Vokalis Puti Chitara dan Asteriska juga turut meramaikan Lap.Rampal yang dipadati penonton termasuk para penggemar Barasuara, Penunggang Badai.

Band yang digawangi oleh Iga Massardi cs ini membuka konser dengan lagu “Antea”. Melodi yang ceria memecah keheningan, dan saya ikut menganggukkan kepala. Meskipun saya tidak banyak hafal liriknya, saya tetap kagum saat Iga Massardi menyanyikan lagu “Antea“.

“Halo arek Malang!, terimakasih banyak ya sudah hadir nonton Barasuara bareng disini,” Kata Iga Massardi setelah menyanyikan lagu pertama.

Ketika “Pikiran dan Perjalanan” mulai mengalun, saya teringat perjalanan hidup saya sendiri. Liriknya yang mendalam membuat saya merenung, menggugah ingatan akan berbagai pengalaman yang telah saya lalui. Di momen itu, saya menyadari bahwa meskipun sendirian, saya tidak pernah benar-benar sendiri. Musik membawa saya pada pengalaman kolektif yang mendalam.

Setelah itu, “Guna Manusia” mengajak saya untuk merenungkan tujuan hidup. Setiap liriknya seolah mengisahkan perjalanan pencarian makna. Saya tersenyum, seolah tersalurkan dengan cepat energi yang diberikan oleh Barasuara. Ketika barisan lagu terus mengalir, saya semakin tenggelam dalam pengalaman ini.

Tibalah saatnya untuk lagu “Fatalis”. Musiknya yang lebih berat membuat suasana menjadi lebih intens. Namun, saya melihat hanya segelintir penonton saja yang melompat dan bergoyang, sisanya kebanyakan dari hanya duduk sambil menunggu Dewa 19 tampil.

“Lagu ini adalah salah satu lagu dari album pertama kami, yaitu mengunci ingatan” teriak Iga Massardi.

Salah satu momen paling menyentuh terjadi saat “Mengunci Ingatan” dimainkan. Liriknya mengingatkan saya pada kenangan yang ingin saya simpan selamanya. Dalam kerumunan, saya merasakan bahwa setiap orang membawa cerita masing-masing, dan musik ini menjadi cara kita untuk berbagi.

Di tengah konser, “Terbuang Dalam Waktu” membangunkan nostalgia. Melodi yang melankolis membangkitkan perasaan yang dalam. Saya menutup mata, dan sedikit headbang membiarkan diri tenggelam dalam setiap nada.

Memasuki lagu ke-6 lagu favorit saya yaitu “Bahas Bahasa” dimainkan, suasana kembali ceria. Ekspresi kagum menghiasi malam dengan melihat aksi panggung Barasuara, dimana Asteriska dan Putri Chitara berdansa, menari, dan menyanyi memberikan ekspresi kebahagiaan.

Barasuara saat mengingatkan tentang Krisis Iklim

Iga Massardi juga sempat unjuk gigi lewat aksi gitar solo di bagian akhir lagu. Atraksi itu mengundang decak kagum bagi para penonton hingga bertepuk tangan meriah. Setelah itu Iga massardi juga mengingatkan tentang krisis iklim, dan kritik kepada keadaan sekarang.

“Ini lagu baru dari album baru kami Jalanan Sadrah. Lagu ini adalah lagu tentang orang-orang yang lalai melaksanakan kewajibannya, langsung saja kita menyanyi bersama, berjudul Etalase,” kata Iga Massardi.

Lagu “Etalase” menjadi puncak konser. Semua penonton berteriak, ikut bernyanyi dengan penuh semangat. Meski berlebihan, saya merasakan seolah seluruh dunia bersatu dalam satu momen. Setiap lirik terasa seperti ungkapan hati yang bisa dipahami oleh semua orang di sana.

“Malang We Love You Guys, mari kita nyalakan lentera bersama-sama!,” ucap Asteriska.

Dan akhirnya, “Api dan Lentera” menjadi penutup yang sempurna. Liriknya menggugah semangat, mengingatkan kita untuk selalu bersinar meskipun dalam kegelapan. Dalam suasana haru dan suka cita, saya merasa beruntung bisa menyaksikan semua ini, meskipun sendirian.

Sebelum lagu Api dan Lentera berakhir, Iga Massardi Cs menutup aksinya dengan mengajak seluruh penonton untuk berjongkok lalu melompat bersama mengikuti dentuman drum. Aksi itu berhasil menutup pertunjukan Barasuara dengan memuaskan.

Aksi Barasuara ketika membawakan lagu Api & Lentera

Pertunjukan Barasuara bukan hanya sekadar pertunjukan musik; itu adalah pengalaman emosional yang mendalam. Meskipun saya datang sendiri, saya pergi dengan banyak kenangan dan hubungan yang terjalin melalui melodi. Akhir kata, ternyata musik dan crowd memang mampu menyatukan kita, bahkan di dalam kesendirian. (ber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *