Berrbahagia.com – Jika pada bab sebelumnya kita melihat betapa cepatnya manusia tersinggung, maka kali ini kita perlu melihat sisi lain yakni keadaan ketika justru tersentuh itu lebih mudah, sementara tersinggung menjadi sulit.
Sebab tersinggung lahir dari rasa percaya diri yang rapuh. Banyak orang cepat tersinggung saat dikritik. Tidak banyak yang mudah tersentuh saat diingatkan. Perbedaan ini terlihat jelas dalam satu kisah yang dinukil dalam Kitab Al-Mawa’izh Al-‘Usfuriyah karya Syeikh Muhammad bin Abu Bakar Ushfury.
Dalam Kitab itu Syeikh Muhammad bin Abu Bakar Ushfury, menukil satu hadis dari Rasulullah ﷺ melalui Ibnu Mas’ud RA: “Pelaku dosa yang mengharap rahmat Allah lebih dekat kepada Allah daripada ahli ibadah yang memutus rahmat.”
Hadis tersebut mengubah cara kita menilai manusia. Allah tidak melihat status sosial atau citra di mata orang lain. Allah melihat isi hati dan harapan.
Orang yang berdosa tetapi tetap berharap ampunan masih membuka pintu rahmat. Orang yang merasa putus asa atau merasa diri sudah aman bisa kehilangan arah. Pesannya jelas. Jangan menutup harapan. Jangan merasa cukup dengan amal sendiri.
Dikisahkan pada zaman Nabi Musa ‘alaihi as-salam, ada seorang laki-laki yang dikenal fasik. Ketika ia meninggal, warga menolak untuk memandikan dan menguburkannya. Jenazahnya diseret dan dibuang ke tempat kotoran. Secara sosial, ia telah selesai. Secara moral, ia telah divonis.
Namun Allah memerintahkan Musa untuk memandikan, menshalati, dan menguburkannya. Di sinilah pergeseran itu terjadi dan ternyata ada plot twist dibalik kenapa Allah menyebutnya sebagai salah satu kekasih-Nya.
Menjelang kematian, laki-laki itu mengakui kesalahannya. Ia menyebut tiga penyebab dosanya yaitu hawa nafsu, teman yang buruk, dab godaan iblis. Ia tidak membela diri. Ia tidak menyalahkan orang lain. Ia mengakui dosanya dan memohon ampun.
Ia juga menyatakan bahwa ia mencintai orang-orang saleh. Ia mencintai kezuhudan, meski tidak sepenuhnya mampu menjalaninya. Ia tersentuh oleh kebaikan, meski terjatuh dalam keburukan. Jika harus memilih, ia akan mendahulukan orang saleh daripada orang buruk. Pengakuan ini menunjukkan satu hal. Hatinya masih menghadap kepada Allah.
Orang yang sadar akan dosanya tidak mudah tersinggung. Ia tahu dirinya belum bersih. Saat menerima nasihat, ia tidak langsung marah. Ia mengoreksi diri.
Sebaliknya, orang yang merasa cukup sering cepat tersinggung. Ia sibuk menjaga citra. Ia menolak kritik karena merasa posisinya aman.
Barangkali inilah titik yang membedakan antara ego dan harapan. Ego membuat kita cepat tersinggung. Harapan membuat kita mudah tersentuh.
Laki-laki fasik itu tidak punya reputasi baik. Ia tidak punya pembela di kampungnya. Tetapi ia punya satu hal yang tidak semua orang miliki: hati yang masih menghadap. Dan ketika hati masih menghadap, tersentuh menjadi mungkin. Sedangkan tersinggung kehilangan pijakan.
Maka mungkin persoalannya bukan pada seberapa bersih hidup kita, melainkan pada seberapa jujur kita mengakuinya. Sebab bisa jadi, yang menjauhkan seseorang dari rahmat bukanlah dosanya, melainkan rasa cukup pada dirinya sendiri.
Hati yang masih berharap akan mudah tersentuh oleh kebaikan. Hati seperti ini lebih dekat pada ampunan. Tersinggung menjadi sulit karena ia tidak lagi sibuk mempertahankan diri. Ia sibuk memperbaiki diri.