Kenalan Sama Band Ali, Gabungkan Disco, Funk, dan Nuansa Arab dalam Musiknya

Kenalan Sama Band Ali, Gabungkan Disco, Funk, dan Nuansa Arab dalam Musiknya

Pernah nggak kamu ngerasain kegalauan batin yang bikin bingung sendiri? Kalau iya, jawabannya mungkin ada di musik Ali.

Ali, trio funk-disco asal Jakarta, mengemas rasa itu dalam irama yang mengajak berdansa sekaligus merenung. Dengan perpaduan funk, disco, afrobeat, dan sentuhan Timur Tengah, mereka membawa pengalaman musik yang terasa sangat personal dan universal.

Dibentuk oleh Kevin Septanto (Elephant Kind), John Paul “Coky” Patton (Kelompok Penerbang Roket), dan Arswandaru Cahyo, Ali bermula dari keinginan menghadirkan sesuatu yang beda dari proyek musik mereka sebelumnya.

Awal perjalanan Ali dimulai dari eksplorasi nada-nada afrobeat yang penuh groove. Dari proses itu, mereka mulai menemukan suara khas mereka sendiri. Perpaduan antara groove repetitif yang hipnotik, harmoni yang kaya, dan ruang-ruang musikal yang dibiarkan bernapas.

Dikutip dari Mixmag Asia, Arswandaru menyebut, “Pendekatan kami bersifat organik, berfokus pada menciptakan sesuatu yang segar dari akar, sambil mencerminkan pengaruh budaya kami.”

Single perdana mereka, Dance, Habibi (November 2021), menjadi pernyataan diri Ali di ranah musik alternatif. Lagu ini menghadirkan lirik berbahasa Arab yang dipilih dengan cermat, berkat bantuan Abdul Kadir, saudara Arswandaru, serta sentuhan produksi dari Viki Vikranta dan Moko Aguswan.

Lirik ‘Dance, Habibi’ mengajak pendengar untuk melepas penat dan berdansa bersama, sesuai dengan nuansa yang ingin dihadirkan Ali dalam karya mereka. Beat hipnotik dan groove funk yang kaya menjadikan lagu ini cepat mendapatkan tempat di hati pendengar.

Februari 2022, Ali melanjutkan perjalanan dengan Downtown Strut, lagu yang membawa nuansa lebih upbeat namun tetap mempertahankan DNA musik mereka dengan elemen Timur Tengah dan funk. Kehadiran Ayla Adjie di perkusi dan proses rekaman bersama Yosaviano Santoso menambah kedalaman suara Ali.

Ali mulai mendapat perhatian di luar negeri jauh sebelum album lengkap dirilis. “Pada November 2022, seorang booking agent dari Eropa menghubungi kami dan bahkan mengurus visa darurat supaya kami bisa tampil di Rennes, Prancis, hanya berdasarkan satu single,” kenang Arswandaru.

Seiring berkembangnya waktu, Ali sempat mengalami perubahan formasi personel. Kevin Septanto (dari Elephant Kind) merupakan salah satu pendiri awal band ini, namun pada Januari 2023, ia digantikan oleh Absar Lebeh (gitaris The S.I.G.I.T), yang kini turut memperkaya warna musikal Ali sebagai anggota tetap.

Band ini sering dibandingkan dengan Khruangbin dan Altın Gün, dua nama besar dalam musik funk dan psychedelic dunia yang juga mengangkat budaya dan musik tradisional ke kancah global. Namun, Ali percaya diri dengan akar budaya Indonesia yang kuat dan pengaruh Arab yang melekat dalam musik mereka.

Debut album mereka, Malaka (2024), disambut hangat dengan showcase sold out di Gedung Kesenian Jakarta. Album ini memperluas eksplorasi musik Ali, menggabungkan melodi melankolis dan groove yang kompleks, serta menambahkan unsur vokal Arab yang semakin menguatkan identitas mereka.

Tur Australia dan penampilan di Meredith Music Festival mempertegas posisi Ali sebagai salah satu band Indonesia dengan daya tarik global yang nyata. Tidak hanya itu, Ali juga tampil di festival besar Jepang, Fuji Rock Festival, menandai langkah penting mereka dalam menjangkau audiens Asia yang lebih luas.

Baru-baru ini, di awal tahun 2025, Ali merilis EP terbaru berjudul Patterns, yang semakin menegaskan keberanian mereka mengeksplorasi suara dan inovasi musikal dengan menggabungkan funk, disco, dan elemen Timur Tengah secara segar dan dinamis.

Ali juga menjalani kehidupan kreatif di luar panggung dengan cara yang unik dan beragam. Arswandaru, misalnya, tak hanya sebagai pemain bass dan vokalis, tetapi juga aktif sebagai ilustrator dan desainer grafis. Ia menangani desain merchandise, poster, hingga materi visual lain untuk band, memberikan sentuhan artistik yang konsisten dan personal pada setiap rilisan dan pertunjukan Ali.

Sementara itu, John Paul “Coky” Patton dikenal sebagai sosok yang sangat berpengaruh di skena musik Indonesia, terutama lewat proyek-proyeknya bersama Kelompok Penerbang Roket. Gaya bermain gitar dan sentuhan produksinya yang unik membawa warna khas yang sulit tergantikan dalam musik Ali.

Absar Lebeh, selain dikenal sebagai gitaris berbakat yang kini menjadi anggota tetap Ali, juga memiliki latar belakang kuat di dunia skateboard. Ia merupakan figur yang cukup dikenal dalam komunitas skateboard Indonesia, yang memberikan perspektif unik dan energi kreatif yang segar ke dalam musik dan sikap band.

Saat funk, disco, dan afrobeat kembali digemari secara global, Ali hadir sebagai representasi segar dari gelombang tersebut dengan perspektif khas Asia Tenggara. Mereka tidak hanya mengulang pola lama, tapi merangkai ulang dengan sentuhan narasi dan estetika yang inovatif.

Ali membuktikan bahwa musik funk-disco berpadu budaya Timur Tengah dari Jakarta mampu bersinar dan memberikan warna unik di panggung dunia — membuktikan bahwa musik adalah bahasa universal yang menghubungkan cerita dan jiwa di berbagai belahan dunia. (min)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *