Kenapa Sesuatu Baru Terasa Berharga Setelah Kehilangan?

Ada hal-hal yang baru terasa berharga setelah kehilangan. Ketika masih ada, sesuatu bisa diperlakukan seperti biasa. Bisa disentuh kapan saja, dihubungi kapan saja, bahkan kadang diperlakukan sesuka hati. 

Begitu pergi, tiba-tiba hal-hal kecil yang sebelumnya terasa biasa berubah menjadi sesuatu yang terus diingat.

Begitulah manusia bekerja. Nilai suatu hal sering kali baru terasa ketika akses terhadapnya sudah tidak lagi dimiliki. Namun, ada satu jenis kehilangan yang lebih menyebalkan. Kehilangan sesuatu yang sebenarnya belum pernah dimiliki.

Padahal Belum Memiliki Akses

Loh, kok bisa kehilangan? Ya, bisa saja. Namanya juga manusia. Ekspektasinya lebih tinggi dari kenyataan.

Bayangkan seseorang yang setiap hari hanya bisa kamu lihat dari jauh. Cara bicaranya kamu kagumi, cara tertawanya menarik perhatian, dan cara dia memperlakukan orang lain terasa sangat menyenangkan untuk diamati.

Lalu muncul bayangan tentang bagaimana rasanya jika suatu hari bisa berjalan bersama. 

Padahal, kenalan saja belum. Chat-an belum. Jadian apalagi. Namun, ketika suatu hari terlihat bersama orang lain, hati sudah lebih dulu berantakan.

Yang hilang sebenarnya bukanlah hubungan, melainkan sebuah kemungkinan.

Satu kemungkinan yang cuma hidup di kepala, tetapi telanjur mengambil ruang besar di dunia nyata. Belum pernah jadi kenyataan, tapi sudah telanjur dirayakan berkali-kali.

Manusia memang punya kemampuan aneh untuk merasa memiliki sesuatu hanya karena terlalu sering memikirkannya. Seseorang bisa merasa berhak atas orang lain hanya karena sudah lama mengagumi. Bahkan bisa kecewa kepada orang yang tidak pernah memberikan janji apa pun.

Nggak salah kalau perasaan itu muncul. Yang perlu diperiksa adalah cerita yang dibuat sendiri. Ketika sebuah skenario sudah terlalu lama hidup dalam kepala, kenyataan yang berbeda bisa terasa seperti kehilangan. 

Padahal, yang hilang sebenarnya adalah harapan.

Bagaimana Kalau Sudah Memiliki Akses?

Kalau sesuatu yang bahkan belum pernah dimiliki saja bisa terasa begitu menyakitkan, bagaimana dengan seseorang yang benar-benar pernah menjadi bagian dari hidupmu?

Ambilah contoh sebuah hubungan percintaan. 

Ketika seseorang masih menjadi kekasih, rasa memiliki bisa tumbuh tanpa disadari. Lalu, muncul pertanyaan-pertanyaan protektif tentang pergi dengan siapa, sedang bersama siapa, kenapa tidak membalas pesan, sampai siapa yang sekarang dekat. 

Kemudian hubungan itu selesai. Masalahnya, rasa memiliki kadang belum ikut pergi. 

Masih ada keinginan untuk mengetahui kehidupannya. Masih terasa sakit ketika melihatnya bahagia bersama orang lain. Bahkan, masih berharap suatu hari dia kembali.

Harusnya, ada satu hal yang perlu diterima, sadar bahwa dia sudah menemukan pemiliknya. 

Seseorang yang memilih pergi memang sudah tidak lagi menjadi bagian dari hidupmu dengan cara yang sama. Jika kini dia memilih orang lain, melepaskan bukan berarti kamu kalah. Melepaskan berarti mengakui bahwa dia juga punya hak menentukan hidupnya sendiri.

Justru ketika rasa memiliki mulai dilepaskan, kamu bisa melihat masa lalu dengan lebih jernih. Selama masih merasa memiliki, yang bekerja bukan lagi rasa sayang. Bisa jadi, ego.

Terkadang, keinginan agar seseorang kembali bukan muncul karena masih ingin bersama. Ada kemungkinan untuk tidak rela melihat sesuatu yang pernah dimiliki sekarang menjadi milik orang lain. Dan itu manusiawi. Tapi, manusiawi bukan berarti harus terus dipelihara.

Mengetahui sesuatu juga tidak otomatis membuat seseorang mampu melepaskannya. Yang muncul malah overthinking. Pikiran mengulang kejadian. Membongkar percakapan lama. Mencari kesalahan. Mencari kemungkinan dari sesuatu yang sudah terjadi.

Terjebak Bahaya Saling Membutuhkan

Pola yang sama sebenarnya bisa ditemukan dalam hal-hal yang lebih sederhana. Seorang perokok, misalnya.

Secara logika, sebenarnya tahu rokok bisa membahayakan tubuh. Informasinya sudah tertera di bungkus. Dokter juga tidak bosan mengingatkan. Tapi kenapa masih saja dibakar? 

Karena rokok sudah berubah menjadi kebiasaan. Bangun tidur ada rokok. Setelah makan ada rokok. Ngopi ada rokok. Nongkrong ada rokok. Ketika pikiran sedang penuh, rokok dicari. 

Belasan batang sehari akhirnya terasa seperti hubungan yang saling membutuhkan. Rokok dibutuhkan untuk menemani rutinitas. Rutinitas pun terasa kurang tanpa rokok.

Lalu suatu hari tenggorokan sakit. Batuk-batuk. Napas terasa tidak nyaman. Rokok yang biasanya terasa nikmat mendadak harus dijauhkan. Akhirnya sadar, yang selama ini dinikmati bukan hanya rokok, tetapi juga kebiasaan bersamanya.

Nikmatnya justru terasa ketika kebiasaan itu hilang. Kalau rokok bisa berbicara, mungkin ia akan mengatakan, “Sudah, kita nggak bisa bersama lagi. Kalau dipaksakan, yang ada malah membahayakan.”

Kedengarannya konyol karena yang dibicarakan hanyalah benda. Namun, manusia memang punya kemampuan aneh untuk memberikan makna kepada sesuatu.

Gitar yang menyimpan kenangan, rumah yang terasa punya jiwa, motor teman perjalanan, hingga meja makan yang menyimpan percakapan bertahun-tahun. Secara sains, benda mati tidak bernapas atau berkembang biak. Tapi karena manusia memberi makna, kehilangan benda pun bisa terasa sesakit kehilangan seseorang.

Terus Apa Yang Harus Ditangisi?

Ketika seseorang pergi, kalimat “aku kehilangan dia” sering muncul. Padahal, yang sebenarnya sedang ditangisi adalah kehidupan dan versi dirimu ketika orang tersebut masih ada.

Yang hilang bukan cuma fisik seseorang. Ada kebiasaan, percakapan, perhatian, rutinitas, dan rasa nyaman yang ikut lenyap.

Ketika kehidupan itu tidak bisa dikembalikan, akal kita mencari jalan pintas dengan menuntut: orangnya harus kembali.

Padahal orangnya sudah berubah. Kehidupannya sudah berubah. Bahkan, kamu yang ditinggalkan pun sudah tidak sama lagi.

Pada akhirnya, yang dipertahankan bukan lagi sosoknya, melainkan kenangan tentangnya. Semakin keras kamu menggenggam sesuatu yang sudah pergi, semakin besar kemungkinan tanganmu sendiri yang bakal terluka.

Rasa Sayang Yang Dipisahkan

Kehilangan memang punya cara sendiri untuk bekerja pada manusia. Akal terus mencari alasan. Mengulang kejadian. Membongkar percakapan lama. Mencari kemungkinan dari sesuatu yang sudah terjadi. 

Pun juga tubuh, berusaha terlihat baik-baik saja. Pekerjaan tetap berjalan. Makanan tetap disantap. Pertemuan tetap dihadiri. Candaan tetap dilemparkan. 

Namun, hati punya ukuran sendiri. Ia tahu seberapa dalam sesuatu pernah berarti. Lalu muncul pertanyaan yang mungkin pernah terlintas: Kalau memang pada akhirnya akan diambil, kenapa Tuhan membuat manusia begitu sayang?

Kenapa dipertemukan kalau harus dipisahkan?

Kenapa sesuatu dibuat begitu nyaman kalau akhirnya harus belajar hidup tanpanya?

Mungkin karena tugas manusia memang bukan memiliki semuanya selamanya. Tugasnya adalah menjalani sesuatu ketika masih diberi kesempatan. Manusia diperintahkan untuk berusaha. Namun, hasil akhirnya tidak pernah sepenuhnya berada dalam kendali.

Tetap Utuh Setelah Sesuatu Pergi

Persoalan terbesarnya adalah manusia mengetahui hal itu. Hanya saja, pengetahuan sering kalah ketika sesuatu yang dicintai benar-benar diambil. Karena itu, kehilangan tidak selalu tentang bagaimana mendapatkan sesuatu kembali. Kadang, kehilangan datang untuk memperkenalkan kesadaran yang selama ini dihindari.

Tidak semua yang dicintai harus terus dimiliki. Menerima takdir juga tidak berarti kesedihan harus segera hilang. Menangis tetap menjadi bagian dari proses. Rasa sakit juga tidak otomatis berarti seseorang gagal menerima keadaan.

Menerima berarti mengetahui kapan harus berhenti melawan sesuatu yang memang sudah berada di luar kuasa. Sebab, sesuatu tidak harus abadi untuk menjadi berharga.

Yang terpenting jangan sampai kehilangan diri sendiri. 

Seseorang boleh kehilangan pasangan. Boleh kehilangan pekerjaan, kesempatan, benda, kebiasaan, bahkan kehidupan yang dulu pernah dibayangkan. Namun, jangan sampai kehilangan semua itu membuat alasan untuk tetap hidup dan bertumbuh ikut menghilang.

Persoalannya bukan bagaimana mempertahankan sesuatu agar tidak pergi. Persoalannya adalah bagaimana tetap utuh setelah sesuatu itu pergi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *