berrbahagia.com – Sulit membayangkan bahwa sebuah foto ruangan kosong berdinding kuning dengan lampu neon yang terus menyala bisa berkembang menjadi salah satu fenomena horor terbesar di internet. Berawal dari unggahan anonim di forum 4chan pada 2019, Backrooms menjelma menjadi urban legend digital yang melahirkan ribuan cerita, teori, hingga video amatiran di YouTube.
Di antara banyak kreator berlomba-lomba untuk menghidupkannya, nama Kane Parsons atau Kane Pixels menjadi yang paling menonjol. Melalui serial pendek The Backrooms, ia membuktikan bahwa horor tidak selalu membutuhkan hantu, darah, atau jumpscare. Ruang kosong yang terasa “salah” sudah cukup membuat siapa pun gelisah.
Kini, bersama A24, Parsons membawa semesta itu ke layar lebar. Menariknya, sineas yang masih berusia 20 tahun itu mengaku tidak pernah membuat video pertamanya dengan tujuan agar diadaptasi Hollywood. Dalam wawancara dengan WIRED, ia mengatakan proyek tersebut berawal dari rasa penasaran dan eksperimen visual semata. Mungkin justru karena itulah dunia Backrooms terasa begitu organik ketika akhirnya berkembang menjadi sebuah film panjang.
Mimpi Buruk yang Berawal dari Sebuah Toko Furnitur
Setup cerita Backrooms sebenarnya cukup sederhana. Latar film membawa penonton ke era 1990-an. Clark (Chiwetel Ejiofor) adalah pemilik toko furnitur yang hidupnya sedang berada di titik terendah. Ia telah berpisah dari istrinya—yang mendapatkan rumah mereka—sehingga kini tinggal sendirian di toko yang semakin sepi pembeli.
Suatu hari, tagihan listrik tokonya melonjak drastis. Teknisi telah memeriksa seluruh instalasi, tetapi tidak menemukan penyebabnya. Satu-satunya kejanggalan hanyalah dua saklar baru berbentuk diagonal yang entah sejak kapan muncul di dalam bangunan.
Ironinya, tak seorang pun mengetahui fungsi saklar tersebut.
Hingga suatu malam, Clark terbangun karena mendengar suara mencurigakan dari lantai bawah. Saat memeriksa sumber suara, ia menemukan cahaya yang keluar dari sebuah dinding kosong. Ketika tangannya menyentuh permukaan itu, tembok tersebut justru dapat ditembus. Clark pun melangkah masuk.
Di balik tembok itu terbentang lorong-lorong kuning tanpa ujung, dipenuhi ruangan-ruangan yang tidak jelas fungsinya. Furnitur berserakan dalam posisi yang tak masuk akal, koridor saling terhubung tanpa pola, sementara setiap sudut terasa asing sekaligus anehnya familier.

Horor dari Ruang yang Terasa Salah
Ditulis oleh Will Soodik berdasarkan serial pendek karya Kane Parsons sendiri, Backrooms sebenarnya tidak terlalu sibuk menjawab berbagai misteri yang muncul sepanjang film.
Siapa organisasi yang mengawasi tempat itu?Apa sebenarnya Backrooms? Apakah ia dimensi lain, eksperimen ilmiah, atau sesuatu yang berasal dari luar bumi?
Alih-alih sibuk menjelaskan asal-usul Backrooms, film ini memilih membiarkan banyak pertanyaan tetap terbuka. Pendekatan itu membuat penonton terus menebak-nebak apa yang sebenarnya sedang terjadi, sekaligus menjaga atmosfer mencekamnya hingga film usai.
Parsons memahami bahwa misteri yang dibiarkan tetap misterius sering kali jauh lebih menakutkan daripada penjelasan panjang yang menghilangkan rasa penasaran. Yang ia kejar bukanlah penjelasan, melainkan pengalaman.
Menonton Backrooms terasa seperti memasuki mimpi buruk yang mungkin pernah dialami hampir semua orang: berjalan di sebuah bangunan yang tampak biasa, tetapi setiap lorong terasa salah. Ruangan-ruangan itu seperti pernah kita lihat, tetapi kita tidak pernah benar-benar mengingat di mana.
Fenomena inilah yang belakangan dikenal sebagai liminal space—ruang transisi yang seharusnya ramai, tetapi justru kosong dan meninggalkan rasa tidak nyaman. Internet memberi nama pada pengalaman tersebut, sementara Kane Parsons berhasil menerjemahkannya ke dalam bahasa sinema.
Atmosfer yang Menjadi Monster Utama
Secara teknis, pendekatan Parsons sebenarnya tidak sepenuhnya baru. Gaya kamera found footage, perspektif orang pertama, gerakan kamera yang perlahan menyusuri lorong, hingga suara langkah kaki dari kejauhan sudah sering digunakan dalam film horor.
Namun, Parsons memahami bahwa teknik hanyalah alat. Yang membuat Backrooms terasa berbeda adalah objek ketakutannya.
Film horor biasanya bergantung pada sosok yang mengancam. Di sini, justru ruang itu sendirilah yang menjadi ancaman.
Visual sengaja dibuat menyerupai rekaman kamera analog era 1990-an. Warna kuning tampak kusam, pencahayaan fluorescent terasa melelahkan, sementara tekstur digital hasil olahan Blender berpadu dengan mulus bersama pengambilan gambar nyata.
Desain suaranya bahkan lebih mengganggu. Tidak ada musik bombastis yang terus memandu emosi penonton. Yang terdengar hanyalah dengungan lampu neon, suara ventilasi, gema langkah kaki, dan keheningan yang terasa terlalu panjang.
Bahkan tanpa memperlihatkan monster, film ini sudah berhasil membuat penonton terus menoleh ke setiap sudut ruangan. Saat entitas akhirnya muncul, ketakutan itu berasal dari rasa tidak pasti yang sudah lebih dulu dibangun selama puluhan menit sebelumnya.
Yang paling mengesankan dari Backrooms adalah bagaimana Kane Parsons berhasil mempertahankan identitas serial YouTube-nya ketika masuk ke industri film.
Alih-alih mengubah Backrooms menjadi horor komersial penuh aksi, ia tetap percaya pada kekuatan atmosfer, ruang kosong, dan ketidakpastian.
Hasilnya memang bukan film yang akan memuaskan semua penonton. Bagi mereka yang mengharapkan jawaban konkret atas seluruh misteri Backrooms, film ini mungkin terasa menggantung. Namun bagi penikmat horor atmosferik, justru itulah daya tarik utamanya.
Backrooms membuktikan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih menyeramkan daripada hantu atau pembunuh bertopeng. Kadang, sebuah lorong kosong yang tidak memiliki ujung sudah cukup membuat kita enggan melangkah lebih jauh.
Rating: 4,5/5