Kita Sebenarnya Baik, Tapi Sering Mager Mengaktifkannya

Berrbahagia.com – Ada satu fakta yang jarang kita akui adalah sebagian besar dari kita sebenarnya bukan orang jahat. Kita hanya sering malas menjadi baik secara konsisten. Kita tahu harusnya sabar. Kita tahu harusnya tidak membalas dengan nada tinggi. Kita tahu harusnya menyelesaikan yang sudah dimulai. Tapi antara tahu dan mau, jaraknya bisa sejauh niat setelah sahur dan godaan rebahan setelah Subuh.

Bulan Ramadhan seringkali datang membawa ilusi bahwa kita akan berubah drastis. Padahal yang lebih realistis adalah potensi kebaikan di dalam diri kita hanya perlu diaktifkan. Masalahnya, mengaktifkan itu butuh kesadaran. Dan kesadaran itu capek.

Kita sering mengira perubahan hidup dimulai dari memperbaiki kekurangan. Padahal bisa jadi pertumbuhan justru dimulai dari mengaktifkan kebaikan yang sudah ada, yang selama ini kita tunda-tunda penggunaannya.

Sudah Ada, Tapi Tidak Otomatis Menyala

Dalam tradisi Islam, manusia lahir dalam keadaan fitrah (suci, murni, bersih). Sebuah kondisi dasar yang cenderung pada kebaikan. Artinya, kita tidak memulai hidup sebagai makhluk yang kosong dari nilai. Ada kompas moral yang bekerja di dalam diri, bahkan sebelum kita belajar tentang benar dan salah secara formal. Fitrah ini bawaan, tapi bawaan tidak selalu sama dengan kebiasaan.

Ibnu Atha’illah dalam Taj al-‘Arus menjelaskan persoalan utama manusia bukan kurangnya potensi, melainkan hati yang tidak dirawat dari kabut nafsu. Beliau mengibaratkan hati seperti cermin yang bisa bening, tetapi mudah buram jika tidak dijaga. 

Beliau berkata: “Hati bagaikan cermin, sedangkan nafsu seperti nafas. Cermin menjadi buram setiap kali engkau bernafas padanya. Hati seorang fasik seperti cermin yang tak lagi dibersihkan. Adapun hati yang mengenal Allah, ia seperti cermin yang selalu dirawat sehingga tetap bening dan mengilap.” (Taj al-‘Arus)

Bahasanya memang klasik, tapi konteksnya modern sekali: kita sering tahu mana yang benar, hanya saja kita menunda melakukannya.

Menunda meminta maaf, menunda disiplin, menunda menjadi versi diri yang sebenarnya kita tahu bisa kita jalani. Pada akhirnya, kita sering kalah bukan oleh keburukan besar, melainkan oleh rasa enggan yang rutin.

Terlalu Fokus pada Kekurangan

Lucunya, kita lebih hafal daftar kekurangan daripada daftar kebaikan sendiri. Kita hafal betul bagian mana dari diri yang tidak disiplin, tidak konsisten, tidak percaya diri. Tapi jarang bertanya, “Sebenarnya aku ini punya kebaikan apa yang belum maksimal kupakai?”

Carl Rogers, tokoh psikologi humanistik, pernah menulis: “The curious paradox is that when I accept myself just as I am, then I can change.”

Paradoksnya, perubahan justru dimulai dari penerimaan diri. Bukan pembencian pada kekurangan, tetapi pengakuan bahwa ada sesuatu dalam diri yang layak dikembangkan.

Masalahnya, menerima diri berarti juga mengakui tanggung jawab. Kalau ternyata kita memang punya potensi sabar, maka setiap ledakan emosi jadi tidak lagi bisa sepenuhnya disalahkan pada keadaan.

Kalau ternyata kita mampu jujur, maka setiap kebohongan kecil terasa lebih sadar. Dan kesadaran itu tidak selalu nyaman.

Karena begitu sadar bahwa kita sebenarnya bisa lebih baik, pertanyaannya berubah. Bukan lagi “apa aku mampu?” Melainkan “apa aku mau?”

Menyelami Diri Itu Tidak Romantis

Ada romantisasi berlebihan tentang “self-reflection”. Seolah menyelami diri selalu terasa syahdu. Padahal sering kali yang muncul justru rasa malu pada diri sendiri.

Kita mulai sadar bahwa kita sebenarnya bisa lebih lembut pada orang tua, tapi sering memilih membalas dengan ketus. Kita tahu kita bisa lebih disiplin, tapi lebih sering berdamai dengan alasan. Kita sadar kita mampu menahan diri, tapi memilih meluapkan. 

Aristoteles dalam buku Nicomachean Ethics menjelaskan bahwa kebajikan (virtue) tidak cukup diketahui, melainkan harus dibiasakan. Ia menekankan bahwa karakter dibentuk melalui tindakan yang diulang-ulang. 

Gagasan yang kemudian dipopulerkan dalam kalimat: “We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit.

Mengetahui bahwa kita punya sifat baik tidak membuat kita otomatis menjadi baik. Dia baru menjadi karakter ketika dipraktikkan secara konsisten. Tapi, mengetahui potensi baik tanpa menggunakannya pelan-pelan melahirkan sifat kecewa pada diri sendiri. Ironinya, itu lebih sunyi daripada dimarahi orang lain.

Pertanyaan yang Muncul?

Mungkin kita salah kaprah. Kita sering mengultuskan momen-momen tertentu untuk menjadi pribadi yang berbeda total. Padahal boleh jadi yang lebih tepat adalah menjadi pribadi yang lebih jujur terhadap kebaikan yang sudah ada.

Dalam konteks bulan ramadhan, menahan lapar dan haus hanyalah latihan kecil. Yang lebih sulit adalah menahan ego, menahan komentar sinis, menahan kebiasaan meremehkan diri sendiri.

Hal itu sudah ditegaskan dalam Al-Qur’an, bahwa perubahan tidak datang dari luar terlebih dahulu, melainkan dari dalam diri manusia sendiri. 

Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11)

Ayat ini sering kita dengar sebagai motivasi sosial dan terdengar begitu akrab di telinga. Namun haya sebagai bunyi yang lewat, tanpa benar-benar kita implementasikan. Perubahan itu dimulai dari keputusan batin, dari keberanian mengubah sikap, kebiasaan, dan cara memandang diri sendiri. 

Versi diri yang lebih sabar itu ada. Versi yang lebih tenang itu ada. Versi yang lebih bertanggung jawab itu juga ada. Namun, itu semua seperti fitur bawaan yang jarang digunakan.

Sebelum bertanya sejauh apa kita bisa tumbuh, mungkin ada satu pertanyaan yang lebih jujur untuk dijawab: Jika kebaikan itu memang sudah ada dalam diri, kenapa kita terus membiarkannya tidak aktif?

Karena pada akhirnya, jarang sekali kita gagal berkembang karena tidak memiliki potensi. Lebih sering kita merasa stuck karena menunda menggunakannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *