berrbahagia.com – Komunitas seniman art toys Lidos Toys berkolaborasi dengan kolektif Pop Selebor menggelar pameran bertajuk Pop Angker di LOGE Bakery Coffee Space, Jalan Dr. Sutomo Nomor 34 A, Klojen, Kota Malang, pada 1–3 Mei 2026.
Pameran ini menampilkan karya dari 17 seniman dan kreator, di antaranya BonorHoror, Mogo, Franiah Amanda, Wapuism, hingga Kunniklan. Mereka mengangkat tema horor urban dengan pendekatan visual yang beragam, mulai dari yang menyeramkan hingga jenaka.
Ketua Pelaksana, Novantri Sumahadi, mengatakan tema urban horror dipilih karena dekat dengan karakter dalam dunia art toys, khususnya figur monster yang memiliki keterkaitan dengan cerita mistis di berbagai daerah.
“Karena kita dari Malang, akhirnya kita mengangkat cerita-cerita lokal supaya tidak hanya jadi sosok menyeramkan, tapi juga bisa lebih menyenangkan dan populer,” ujarnya.
Menurutnya, para kreator diberi kebebasan dalam menginterpretasikan tema tersebut. Hal ini membuat karya yang ditampilkan memiliki karakter yang beragam.
“Mau dibuat menyeramkan atau fun itu tergantung konsep masing-masing desainer,” katanya.
Salah satu karya yang turut dipamerkan adalah milik Novan bertajuk Sang Penjaga Jalan Tengah Samaan. Karya ini terinspirasi dari mitos lokal tentang sosok gaib di kawasan pemakaman. Namun, alih-alih menampilkan sosok yang menakutkan, karakter tersebut diolah menjadi bentuk yang lebih ringan dan cenderung jenaka.
“Dulu ceritanya angker, tapi sekarang kita buat jadi sesuatu yang bisa dinikmati. Jadi orang tidak lagi takut, tapi bisa menikmati ceritanya,” jelasnya.
Selain itu, karya lain juga mengangkat urban legend dari wilayah Malang Raya. Salah satunya datang dari Sugatel yang mengolah kisah “Mbah Baleyan” di Asrikaton. Sosok tersebut dikenal sebagai penjaga kawasan alas, bahkan dipercaya memiliki punden dan ritual tertentu oleh warga.
Cerita yang berkembang menyebut adanya tradisi pengajian yang mengelilingi area makam berbentuk lingkaran, dengan figur yang divisualkan sebagai sosok menyerupai singa. Melalui art toys, kisah tersebut tidak ditampilkan sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan dihadirkan dengan pendekatan yang lebih ringan.
Suga, sapaan akrabnya, berharap unsur mistik yang selama ini hidup di masyarakat bisa diterima dengan cara yang lebih menyenangkan, tanpa harus menolak keberadaannya.

Sementara itu, kreator BonorHoror menghadirkan karya bertajuk Pocica, yang berangkat dari pengalaman pribadi. Ia mengaku pernah melihat sosok pocong berukuran besar saat dalam perjalanan pulang dari studio.
“Waktu itu habis dari studio, setelah salat saya lihat ke atas dan ada pocong besar. Refleks kaget, saya lempar batu, dan dia menghindar,” ujarnya.
Pengalaman tersebut kemudian diolah menjadi karakter art toys dengan pendekatan yang tidak sepenuhnya menyeramkan. Ia justru menyisipkan pesan sederhana melalui karyanya.
“Pesannya, jangan takut sama hantu. Tapi kalau serem, ya lari saja,” katanya sambil tertawa.

Proses pembuatan karya telah dimulai sejak akhir 2025, melalui tahap riset hingga eksplorasi visual. Tantangan utama, lanjut Novan, adalah menerjemahkan unsur horor ke dalam bentuk mainan tanpa kehilangan karakter.
Selain pameran, Pop Angker juga menghadirkan sejumlah rangkaian acara, seperti pertunjukan musik saat pembukaan, program kreatif bersama mahasiswa Animasi Universitas Negeri Malang pada hari kedua, serta pemutaran film horor oleh Kolong Sinema pada penutupan.
Novan menyebut, konsep serupa sebelumnya sempat dipamerkan di Jakarta dan mendapat respons positif, terutama karena mengangkat cerita-cerita lokal.
“Cerita mitos daerah justru menarik bagi pengunjung di luar,” ujarnya.
Ke depan, Lidos Toys juga tengah menyiapkan proyek lanjutan bertajuk Band of Toys 2, yang akan melibatkan musisi lokal Malang. Rencananya, karya art toys akan dikolaborasikan dengan merchandise band dan dirilis dalam bentuk bundling.
Melalui pameran ini, Lidos Toys berharap art toys semakin dikenal luas oleh masyarakat, sekaligus mendorong perkembangan industri kreatif mainan di tingkat lokal.
“Harapannya, masyarakat semakin mengenal dan menikmati art toys, karena perkembangannya di Indonesia juga mulai meningkat,” tutupnya. (ber)