Peran Randa, Bawa Feby Febriana Hidayat, Raih Aktris Terbaik di Ajang Festamasio XII Malang

berrbahagia.com – Riuh tepuk tangan panjang bergolora di Universitas Negeri Malang saat nama Feby Febriana Hidayat diumumkan sebagai Aktris Terbaik dalam malam penganugerahan Festamasio XII. Di balik sorotan panggung itu, peran Randa yang ia bawakan dalam Wehea? adalah hasil dari proses panjang yang ia bangun selama berbulan-bulan. 

Di atas panggung festamasio, ia memerankan sebagai Randa, tokoh ibu dalam pementasan Wehea? dari Teater Yupa Universitas Mulawarman. Namun di balik capaian itu, yang pertama terlintas di benaknya bukanlah kemenangan, melainkan proses yang belum selesai.

“Lebih ke gimana cara saya menjalani proses ke depannya. Sebenarnya ini harapan yang saya impikan sejak awal, tapi tetap tidak menyangka,” ujarnya saat diwawancarai via dm, Jumat (1/5/2026).

Bagi Feby, penghargaan tersebut bukan datang secara tiba-tiba. Ia menyebut doa, dukungan, dan perjuangan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari prosesnya. Sejak awal, ia mengaku memang menargetkan kategori Aktris Terbaik, meski di saat yang sama merasa prosesnya masih jauh dari cukup.

“Kalau jujur, menurut saya proses saya itu belum cukup. Belum cukup banget. Tapi mungkin ini hasil dari apa yang sudah saya usahakan,” katanya.

Dalam Wehea?, Feby memerankan Randa, sosok ibu yang lembut, mengayomi, dan cenderung menahan diri dalam konflik keluarga. Karakter ini justru berbanding terbalik dengan kepribadiannya di kehidupan sehari-hari.

“Randa itu sangat lembut, lebih banyak ‘iya-iya’. Sedangkan saya orangnya lebih tegas dan ekspresif. Jadi cukup jauh,” ujarnya.

Feby saat memerankan Randa dalam pementasan Wehea? di ajang Festamasio XII Malang

Perbedaan tersebut menjadi tantangan tersendiri. Ia menyebut sejak awal sudah mengincar karakter Randa, namun juga menyadari kompleksitas yang harus dihadapi untuk menghidupkannya di atas panggung.

Untuk mendekati karakter tersebut, Feby melakukan riset dari lingkungan terdekat, termasuk mengamati sosok ibunya sendiri. Selain itu, ia juga mencari referensi dari film untuk membangun emosi dan cara pandang karakter.

“Saya banyak melihat bagaimana ibu saya berbicara dan memperlakukan anak. Dari situ saya ambil beberapa hal untuk membangun Randa,” tutur Feby Bovy, sapaan akrabnya.

Tantangan utama justru terletak pada konsistensi emosi. Menurutnya, Randa adalah karakter yang tidak langsung “meledak” sejak awal, melainkan berkembang perlahan hingga mencapai titik klimaks di akhir cerita.

“Di awal sampai pertengahan, karakternya cukup flat. Jadi yang sulit itu menjaga rasa dari awal supaya ledakan di akhir tetap masuk akal,” katanya.

Salah satu adegan yang paling membekas adalah saat Randa ditampar oleh suaminya di atas panggung. Meski telah melalui latihan, momen tersebut tetap terasa nyata saat pementasan berlangsung.

“Waktu latihan tidak pernah sekeras itu. Tapi saat tampil, itu benar-benar real. Saya sudah siap secara mental, jadi setelah ditampar saya fokus ke tujuan adegan, bukan ke rasa sakitnya,” ujarnya.

Proses latihan yang dijalani Feby tidak hanya berfokus pada teknis, tetapi juga eksplorasi emosi. Ia menyebut meditasi, latihan privat, hingga diskusi dengan lawan main menjadi bagian penting dalam menemukan “rasa” karakter.

“Rasa itu tidak bisa dibangun sendiri. Harus ada tektokan dengan lawan main, dan yang paling penting kita harus paham subteks,” katanya.

Selama proses tersebut, peran sutradara juga dinilai sangat menentukan arah karakter yang dibangun. Baginya, aktor harus mampu menerjemahkan visi sutradara ke dalam tubuh dan emosi di atas panggung.

“Pertanyaan terbesar saya selama latihan itu: Randa ini mau dibawa ke mana? Dan itu dijawab oleh sutradara,” ujarnya.

Lebih jauh, Feby melihat Wehea? tidak hanya sebagai karya panggung, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Konflik alih fungsi lahan yang diangkat dalam pementasan, menurutnya, menjadi lebih terasa karena dibungkus dalam relasi keluarga.

“Konflik besar itu dibawa ke ranah keluarga, jadi terasa lebih dekat dan heart to heart,” katanya.

Di luar panggung, karakter Randa bahkan sempat terbawa ke kehidupan sehari-harinya, mulai dari cara berjalan hingga cara berbicara. Meski tidak sepenuhnya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses yang ia jalani sebagai aktor.

Kini, setelah meraih penghargaan, Feby tidak melihatnya sebagai akhir. Ia justru ingin menjadikan pengalaman tersebut sebagai bekal untuk berbagi dengan generasi berikutnya di Teater Yupa.

“Saya berharap semua ilmu dan pengalaman ini bisa saya transfer ke adik-adik. Karena menurut saya, ilmu itu tidak akan berguna kalau hanya disimpan sendiri,” ujarnya.

Mahasiswa Hubungan Internasional semester akhir ini telah berkecimpung di dunia teater selama lebih dari tiga tahun. Ketertarikannya bermula dari keinginan menjadi aktor, sebelum akhirnya menemukan bahwa teater adalah ruang yang jauh lebih luas dari sekadar peran di atas panggung.

“Teater itu luas—ada lighting, artistik, musik, kostum. Itu yang bikin saya merasa teater sangat mewarnai hidup saya,” tuturnya.

Bagi Feby, perjalanan di teater adalah proses yang tidak pernah selesai. Ia menggambarkannya seperti membawa “buku kosong” setiap hari—ruang untuk terus mencatat hal-hal baru yang dipelajari.

“Saya percaya hidup adalah proses yang tidak pernah selesai. Selalu ada ruang untuk belajar hal baru,” pungkasnya. (ber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *