Pertama dan Paling Utama adalah Memaafkan Diri Sendiri

Ilustrasi (Mutualist Creative)

Berrbahagia.com – Lebaran Idulfitri selalu identik dengan gema takbir, hidangan yang mulai disiapkan, dan pesan-pesan maaf yang berseliweran di layar ponsel. “Mohon maaf lahir dan batin” atau “Minal Aidzin Wal Faidzin” menjadi kalimat yang paling sering dikirim, seolah menutup satu tahun penuh kesalahan. Namun, di tengah tradisi saling memaafkan itu, ada satu hal yang kerap terlewat yaitu memaafkan diri sendiri.

Seringnya kita sibuk menyusun kata untuk orang lain, tetapi jarang duduk sejenak untuk berdamai dengan diri yang masih menyimpan sesal.

Budaya lebaran, terkhusus di Indonesia dijadikan momen untuk perayaan keagamaan dan momentum sosial. Silaturahmi dipererat, konflik lama diurai, dan relasi diperbaiki. Dalam banyak keluarga, momen sungkeman menjadi simbol kerendahan hati sekaligus pengakuan atas kesalahan.

Meski demikian, pola ini cenderung bergerak ke luar, bukan ke dalam diri, seperyi meminta maaf kepada orang lain, memperbaiki hubungan dengan sesama. Sementara itu, hubungan dengan diri sendiri sering dibiarkan begitu saja.

Padahal, tidak semua luka berasal dari orang lain. Sebagian justru lahir dari keputusan-keputusan pribadi yang disesali, target yang tidak tercapai, atau standar hidup yang terasa gagal dipenuhi.

Diri yang Terus Diadili

Tanpa disadari, banyak orang hidup dengan suara batin yang tidak risau. Kesalahan kecil diulang dalam ingatan. Kegagalan lama diputar kembali. Bahkan pencapaian sering terasa tidak cukup.

Jika mengacu dalam dunia psikologi, kecenderungan ini berkaitan dengan self-criticism atau kebiasaan mengkritik diri secara berlebihan. Hal itu diperkenalkan oleh filsuf seperti Kristin Neff dengan istilah self-compassion, yaitu kemampuan untuk memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan yang sama seperti kita memperlakukan orang lain.

Ironisnya, banyak orang lebih mudah memaklumi kesalahan orang lain daripada kesalahan diri sendiri.

Di sisi lain, dalam ajaran Islam konsep ampunan memiliki dimensi yang luas. Allah digambarkan sebagai Maha Pengampun, bahkan untuk dosa yang berulang. Imam Al-Ghazali, ulama dari Baghdad menekankan bahwa keputusasaan terhadap rahmat Tuhan justru menjadi masalah tersendiri.

Artinya, ketika seseorang merasa dirinya “terlalu buruk untuk dimaafkan”, berarti ia sedang meragukan keluasan ampunan itu sendiri.

Kembali ke Fitrah

Menariknya, ungkapan “Minal Aidzin wal Faidzin” yang sering diucapkan saat Lebaran sebenarnya tidak berarti “mohon maaf lahir dan batin”. Secara makna, kalimat ini lebih dekat dengan harapan yakni semoga kita termasuk orang-orang yang kembali (ke fitrah) dan termasuk orang-orang yang menang.

Ungkapan ini juga sering dilengkapi dengan doa: “Allahumma ja’alna minal ‘aidzin wal faidzin”—yang berarti, “Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali (suci) dan meraih kemenangan.”

Dengan kata lain, Lebaran merupakan momen saling memaafkan secara sosial, dan juga tentang kembali ke diri yang lebih jernih, lebih utuh, dan lebih menerima.

Poinnya adalah memaafkan diri bukan berarti menghapus kesalahan, tetapi mengakui bahwa manusia memang tempatnya salah, sekaligus membuka ruang untuk memperbaiki diri.

Memaafkan diri sering disalahpahami sebagai bentuk penyangkalan atau pembenaran, dalam istilah sekarang lebih dikenal denial. Padahal, keduanya berbeda. Penyesalan tetap penting, karena menjadi tanda bahwa hati masih bekerja. Namun tanpa penerimaan, penyesalan bisa berubah menjadi beban yang terus menekan.

Dalam banyak kasus, manusia terjebak antara ingin berubah dan tidak mampu menerima masa lalunya. Seorang filsuf bernama Søren Kierkegaard menyebutnya kecemasan dan keputusasaan manusia dalam menghadapi dirinya sendiri. Akibatnya, ia tidak benar-benar bergerak ke depan.

Kembali ke momen lebaran, momen ini selalu datang dengan nuansa yang tenang, penuh harap, dan sedikit melankolis. Setelah sebulan menjalani Ramadan, ada perasaan seperti berdiri di garis akhir sekaligus garis awal.

Memaafkan diri sendiri bisa menjadi langkah paling awal sebelum melangkah lebih jauh.

Tidak untuk melupakan kesalahan, tetapi untuk tidak lagi menjadikannya sebagai identitas. Tidak juga untuk merasa sudah cukup baik, tetapi untuk memberi ruang agar bisa menjadi lebih baik.

Jika selama ini kita terbiasa mengatakan “mohon maaf lahir dan batin” kepada orang lain, mungkin malam Lebaran juga bisa menjadi waktu untuk mengatakan hal yang sama kepada diri sendiri.

Memaafkan diri bukan tanda kelemahan. Justru hal itu merupakan bentuk keberanian untuk berhenti menghakimi, dan mulai memperbaiki.

Pada akhirnya, perjalanan setelah Lebaran tidak dimulai dari seberapa banyak orang memaafkan kita, tetapi dari seberapa siap kita berdamai dengan diri sendiri. Dari situlah makna kembali ke fitrah benar-benar menemukan tempatnya. (min)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *