berrbahagia.com – “Jangan cari validasi dari orang lain.” Kalimat itu mungkin sudah terlalu sering kita dengar. Biasanya muncul ketika seseorang mengeluhkan komentar negatif di media sosial, merasa kurang percaya diri, atau terlalu memikirkan penilaian orang lain. Maksudnya baik, agar kita tidak menggantungkan kebahagiaan pada pendapat orang lain.
Benarkah manusia bisa hidup tanpa validasi? Kalau memang tidak membutuhkannya, mengapa bayi akan berhenti menangis setelah dipeluk ibunya? Mengapa kita merasa lega ketika kerja keras dihargai atasan? Mengapa satu ucapan sederhana seperti, “Kamu sudah melakukan yang terbaik,” bisa mengubah suasana hati seseorang seharian?
Jawabannya mungkin tidak sesederhana “berhenti mencari validasi”. Sebab, secara psikologis maupun biologis, manusia memang tumbuh sebagai makhluk yang membutuhkan penerimaan.
Validasi Sudah Ada Sejak Kita Lahir
Sebelum mengenal media sosial, likes, atau kolom komentar, manusia sudah lebih dulu mengenal validasi.
Seorang bayi menangis lalu digendong. Seorang anak menunjukkan gambar buatannya kepada orang tua sambil bertanya, “Bagus, kan?” Seorang remaja berharap teman-temannya menerima dirinya. Orang dewasa pun tetap ingin dihargai atas pekerjaan yang telah dilakukan. Semua itu adalah bentuk pencarian pengakuan bahwa keberadaan kita dilihat dan dihargai.
John Bowlby, Psikolog asal Britania, melalui Attachment Theory menjelaskan bahwa respons hangat dari pengasuh membentuk rasa aman pada anak. Pelukan, senyuman, atau perhatian tidak hanya bentuk kasih sayang, tetapi fondasi perkembangan emosional seseorang.
Artinya, kebutuhan akan penerimaan bukan kebiasaan yang muncul karena media sosial. Ia sudah menjadi bagian dari proses manusia bertumbuh sejak hari pertama kehidupan.
Mengapa Otak Menyukai Validasi?
Mengapa pujian terasa menyenangkan? Sejumlah penelitian di bidang neurosains menunjukkan bahwa ketika seseorang menerima pengakuan atau diterima secara sosial, otak mengaktifkan sistem penghargaan (reward system) yang juga terlibat saat kita memperoleh sesuatu yang menyenangkan. Dopamin dilepaskan, memunculkan rasa puas dan nyaman.
Bukan berarti manusia kecanduan pujian. Mekanisme ini berkembang karena selama ribuan tahun, diterima oleh kelompok meningkatkan peluang untuk bertahan hidup. Hidup sendirian pada masa prasejarah berarti risiko lebih besar menghadapi kelaparan, predator, atau konflik.
Karena itulah otak belajar bahwa diterima oleh kelompok adalah sesuatu yang penting. Jadi, jika hari ini kita merasa senang ketika diapresiasi atau sedih ketika ditolak, itu bukan berarti kita lemah. Itu adalah respons yang memang dimiliki manusia sebagai makhluk sosial.
Yang Bermasalah Bukan Validasinya
Masalah mulai muncul ketika validasi berubah menjadi satu-satunya cara menilai diri sendiri. Misal, seseorang mengunggah foto lalu terus-menerus memeriksa jumlah likes. Ada yang merasa pekerjaannya tidak berarti jika tidak dipuji. Ada pula yang mengubah pendapat hanya agar diterima oleh lingkungan.
Disitulah, nilai diri tidak lagi berasal dari keyakinan pribadi, melainkan dari penilaian orang lain. Karena itu psikologi membedakan kondisi tersebut menjadi external validation dan internal validation.
External validation adalah penghargaan yang datang dari luar diri, seperti pujian, pengakuan, atau penghargaan. Sementara internal validation adalah kemampuan menerima, menghargai, dan mengakui diri sendiri meski tidak selalu mendapat persetujuan orang lain.
Keduanya bukan lawan. Yang menjadi persoalan adalah ketika validasi dari luar sepenuhnya menggantikan validasi dari dalam.
Kita Memang Ingin Diterima
Dalam hierarki kebutuhan Abraham Maslow, rasa memiliki dan diterima (love and belonging) menempati posisi penting setelah kebutuhan dasar manusia terpenuhi. Artinya, keinginan memiliki teman, keluarga, pasangan, atau komunitas bukanlah kelemahan. Itu merupakan kebutuhan psikologis yang normal.
Hal serupa juga dijelaskan dalam Self-Determination Theory yang dikembangkan Edward Deci dan Richard Ryan. Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah relatedness, yaitu merasa terhubung dan diterima oleh orang lain.
Menariknya, teori ini tidak mengatakan bahwa manusia harus disukai semua orang. Yang dibutuhkan adalah hubungan yang bermakna, bukan persetujuan dari setiap orang yang kita temui.
Batas Sehat Mencari Validasi
Kalimat “jangan cari validasi” sebenarnya lahir dari niat baik. Namjn, masalah datang ketik kalimat tersebut sering dipahami secara harfiah, seolah-olah manusia ideal adalah mereka yang tidak peduli pada pendapat siapa pun. Padahal, itu hampir mustahil.
Kita tetap ingin pasangan menghargai usaha kita. Kita ingin keluarga mendengarkan cerita kita. Kita berharap teman memahami perasaan kita. Bahkan penulis pun berharap tulisannya dibaca. Itu semua adalah bentuk kebutuhan akan penerimaan.
Yang perlu diwaspadai bukan keinginan untuk dihargai, melainkan ketika seluruh kebahagiaan diserahkan kepada orang lain.
Mungkin Pertanyaannya Bukan Lagi “Perlu atau Tidak?”
Barangkali pertanyaan yang lebih tepat bukan, Apakah manusia membutuhkan validasi? Karena sudah tentu jawabannya: iya.
Sebagai makhluk sosial, manusia memang membutuhkan pengakuan, penerimaan, dan apresiasi. Itu bukan tanda lemah atau haus perhatian. Itu adalah bagian dari cara kita berkembang, membangun hubungan, dan merasa menjadi bagian dari lingkungan.
Tapi, kebutuhan itu tetap membutuhkan batas. Validasi dari orang lain seharusnya menjadi pelengkap, bukan fondasi utama untuk menilai diri sendiri. Pujian memang menyenangkan, kritik juga bisa berguna. Tetapi jika suasana hati, rasa percaya diri, hingga keputusan hidup sepenuhnya ditentukan oleh penilaian orang lain, saat itulah validasi berubah menjadi ketergantungan.
Mungkin kita memang tidak bisa hidup tanpa validasi. Namun, kita bisa belajar untuk tidak bergantung sepenuhnya padanya. Menghargai apresiasi ketika datang, menerima kritik ketika membangun, tetapi tetap memiliki kompas untuk menilai diri sendiri.
Sebab pada akhirnya, pendapat orang lain dapat menjadi cermin, tetapi jangan sampai menjadi kemudi yang menentukan seluruh arah hidup kita. Syukurlah kalau bisa menerima itu semua. Namun, pertanyaanya yang lebih penting adalah, siapa yang kita beri kuasa untuk memvalidasi hidup kita?…..(ber)