Beberapa minggu lalu, nama The Velvet Sundown muncul begitu saja di radar para penggemar musik alternatif. Yang membuat mereka dibicarakan adalah teka-teki tentang identitas mereka yang mencuri perhatian.
Band ini, yang lagu-lagunya penuh warna gitar lembut dan vokal pria melankolis, dengan cepat mendapat lebih dari 850.000 pendengar bulanan di Spotify. Halamannya sudah terverifikasi.
Judul lagunya seperti Ashes and Velvet, Back Home Never Came, How Did This Go Wrong terdengar seperti kutipan dari buku puisi atau AI yang diberi tugas membuat lirik seindah mungkin.
Masalahnya, tak satu pun dari personel yang diklaim tergabung dalam band itu bisa ditemukan. Tak ada media sosial pribadi, tak ada wawancara, tak ada konser, tak ada footage, bahkan jejak digital sebelum band ini muncul nihil. Satu-satunya jejak yang bisa dilacak hanyalah kebingungan.
Beberapa minggu setelah musiknya muncul dan mulai viral diam-diam, sejumlah pengguna media sosial mulai berspekulasi: Apakah ini band buatan AI?
Dalam salah satu laporan Rolling Stone US, seseorang bernama Andrew Frelon muncul mengaku sebagai juru bicara band dan menyatakan bahwa musik The Velvet Sundown memang diciptakan lewat alat AI bernama Suno.
Tapi belakangan, terungkap kalau “Andrew Frelon” sendiri bukan orang nyata. Identitas palsu. Yang berarti, sang “juru bicara” hanyalah bagian dari prank. Fiksi dalam fiksi.
Pihak The Velvet Sundown kemudian mengeluarkan pernyataan bahwa mereka tidak ada kaitan dengan Frelon, dan tidak mengonfirmasi identitas siapapun. Bahkan akun X yang mengaku sebagai platform resmi mereka juga dinyatakan palsu. Yang tersisa dari band ini hanyalah lagu-lagu, halaman Spotify, dan tanda tanya.
Platform Deezer sempat mengklaim, lewat alat pendeteksi AI internal mereka, bahwa musik The Velvet Sundown adalah “100% dihasilkan AI.” Sementara Spotify, platform musik yang jadi rujukan kaum gen-Z memilih bungkam.
Ketika Band Tanpa Identitas Menguasai Platform
Kasus ini bukan yang pertama. Di tahun 2020, Travis Bott, sebuah proyek eksperimen oleh firma teknologi menghasilkan lagu rap dengan gaya Kanye West lewat pelatihan model AI.
Lalu muncul juga Ghostwriter, lewat Heart on My Sleeve, lagu viral yang meniru gaya Drake dan The Weeknd dengan sangat meyakinkan hingga sempat lolos ke beberapa playlist besar sebelum akhirnya ditarik.
The Velvet Sundown hadir dengan pendekatan yang tak biasa. Mereka tidak tampil sebagai proyek eksperimental, bukan pula parodi atau pernyataan terang-terangan soal teknologi.
Sebaliknya, mereka mengambil posisi di wilayah abu-abu. Muncul layaknya band sungguhan, namun menolak dikenali sebagai manusia.
Alih-alih menjual narasi tentang kecanggihan AI atau mengklaim diri sebagai seniman, identitasnya justru disamarkan lewat musik yang terlampau rapi, terlalu estetis, hingga terasa artifisial. Dan mungkin justru di situlah letak kecerdikannya.
Dari sisi sonik, lagu-lagu mereka terdengar seperti Coldplay versi lo-fi. Lembut, sentimental, aman. Liriknya mendayu, menggunakan metafora sinematik: mata, cahaya pudar, abu, malam, api, kebebasan.
Semua terasa dirancang untuk menciptakan keindahan instan. Mudah dinikmati, tapi tak membekas. Memikat, namun tanpa nyawa. Dan anehnya, itu cukup untuk menarik ratusan ribu pendengar.
Profesor Gina Neff dari University of Cambridge menanggapi fenomena ini dengan nada waspada. Menurutnya, kisah seperti ini menyentuh ketakutan kolektif soal realitas digital yang makin sulit dikendalikan.
“Mereka memainkan ketakutan kita tentang kehilangan kendali atas realitas digital,” ujarnya.
Di zaman ketika wajah, suara, lirik, bahkan kepribadian bisa dipoles oleh algoritma, pertanyaan tentang apa itu “keaslian” jadi makin mengganggu.
Pertanyaan ini sebenarnya sudah bergema sejak Gorillaz hadir sebagai band animasi, atau saat Danger Mouse merilis The Grey Album, mashup ilegal antara The White Album milik The Beatles dan The Black Album milik Jay-Z.
Bedanya, proyek-proyek seperti itu tetap terbuka soal siapa yang ada di balik layar. Identitas disembunyikan, tapi niatnya jelas. Sementara The Velvet Sundown wajahnya tak tampak, niatnya pun tak pernah dijelaskan.
The Velvet Sundown ibarat patung lilin dari David Bowie, indah, menyerupai, tapi dingin. Mereka membius karena kemiripan, bukan karena jiwa. Dan mungkin itu yang membuat mereka justru relevan. Karena sekarang, musik tidak perlu lagi mengguncang dunia. Cukup menyamankan layar ponsel.
Band-band masa kini tidak lagi berlomba merusak aturan. Mereka berlomba membuat suasana. Vibe over message. Dalam logika ini, The Velvet Sundown adalah manifestasi sempurna dari zaman: band tanpa narasi, tanpa sejarah, tanpa sikap, tapi tetap bisa eksis karena algoritma suka suara mereka.
Pro-Kontra: Antara Takjub dan Takut
Pendukung penggunaan AI dalam musik melihat sisi positifnya. Teknologi bisa membuka peluang bagi siapa saja untuk membuat musik tanpa harus memiliki pelatihan formal atau akses ke studio mahal. Platform seperti Suno dan Udio memungkinkan pengguna membuat lagu hanya dengan perintah teks. Ini bisa memicu gelombang kreativitas baru, memperluas definisi tentang siapa yang layak disebut musisi.
Mereka yang mendukung hadirnya band semacam The Velvet Sundown biasanya punya satu argumen inti: ini adalah evolusi. Dalam sejarah musik, teknologi selalu hadir untuk mengacaukan dan memperluas batas. Dari gitar listrik sampai autotune, dari drum mesin sampai laptop sebagai studio portabel. AI hanyalah satu bab berikutnya dalam cerita panjang itu.
“Kalau lagu-lagunya bagus, siapa peduli siapa yang bikin?” begitu kira-kira argumen para pendukung. Buat mereka, fokus pada asal-usul lagu adalah bentuk gatekeeping. Apalagi, AI bisa membuka akses bagi lebih banyak orang untuk bereksperimen. Anak muda yang tak bisa main gitar, tak punya studio, bisa tiba-tiba menciptakan sesuatu yang terdengar “radio-ready.” Bukankah itu bentuk demokratisasi kreativitas?
Dalam banyak kasus, AI juga bisa menjadi alat bantu, bukan pengganti. Beberapa artis telah menggunakan AI untuk menciptakan pola drum, menyusun lirik awal, atau mengolah suara menjadi lebih jernih. Jika digunakan secara etis dan transparan, AI bisa mempercepat proses produksi musik dan memberi ruang eksplorasi artistik yang lebih luas.
Kontra: Pasar Musik yang Jenuh dan Tak Seimbang
Di sisi lain, ada gelombang resah yang semakin membesar. Kita menyukai lagu bukan hanya karena chord-nya, tapi karena siapa yang menyanyikannya, kenapa ia menulisnya, dan dari mana ia berasal. Ada semacam kontrak tak tertulis antara musisi dan pendengar: bahwa kita sedang terhubung dengan pengalaman manusia lain.
Namun, yang dikhawatirkan bukan hanya soal kualitas atau etika, melainkan soal dominasi pasar. Bayangkan jika label besar atau perusahaan teknologi memproduksi ratusan lagu AI setiap hari, mengisi playlist dengan konten buatan mesin yang tak perlu dibayar royalti.
Tak cuma merugikan dari sisi ekonomi, ini juga menggerus keberagaman suara. Lagu-lagu AI cenderung aman, tidak terlalu menantang selera, dan mengulang formula yang sudah terbukti berhasil. Akibatnya, lanskap musik jadi homogen. Yang tersisa hanyalah suara yang terdengar “oke” tapi tak punya jiwa.
Ketika AI mulai mengaburkan batas itu, muncul pertanyaan etis: apakah kita sedang menikmati ekspresi, atau hanya menelan simulasi?
Dua Dunia yang Berjalan Sejajar?
Kita hidup di zaman playlist. Lagu-lagu diputar tanpa tahu siapa penyanyinya. Algoritma memilihkan lagu berdasarkan mood dan waktu. Jika lagu The Velvet Sundown cocok untuk sore yang tenang atau malam yang dingin, mengapa harus peduli siapa yang membuatnya?
Namun justru di situlah letak kekhawatiran banyak pihak. Jika suara bisa direkayasa, lirik bisa dirangkai mesin, dan identitas bisa dimanipulasi, lalu di mana posisi manusia dalam ekosistem ini?
Mungkin dalam lima tahun ke depan, tidak akan ada lagi perdebatan. Lagu buatan AI akan menjadi bagian wajar dari lanskap musik. Beberapa akan sukses, beberapa akan gagal, seperti halnya musisi manusia.
Tapi mungkin juga, akan muncul dua dunia musik: yang satu cepat, massal, dan otomatis; yang satu lambat, jujur, dan penuh cacat manusia.
The Velvet Sundown adalah sinyal dari masa depan yang tidak meminta izin. Musik yang datang bukan dari rasa, tapi dari logika statistik. Ia tidak buruk, tidak juga luar biasa. Ia hanya ada, seperti kabut tipis yang turun saat subuh—tak bisa ditangkap, tapi membuatmu bertanya: siapa yang membawa semua ini ke sini?