“Banyak Dosa di Sekitar Kalian”, Pengakuan Tiga Seniman di Malang dalam Pameran Cap Tiga Dosa

berrbahagia.com – Ada banyak cara mengakui kesalahan. Sebagian orang memilih memendamnya, sebagian lain menceritakannya kepada orang terdekat. Namun, tiga seniman di Malang ini memilih cara yang berbeda, mereka memamerkannya di galeri seni.

“Banyak dosa di sekitar kalian.” Kalimat itu menjadi pintu masuk yang dibawa Novantri, Bagus Priyo, dan Indra Setiawan dalam pameran Cap Tiga Dosa. Alih-alih berbicara tentang dosa dalam pengertian yang menghakimi, mereka justru mengajak pengunjung melihat bagaimana kesalahan, penyesalan, hingga kritik sosial dapat diterjemahkan menjadi karya seni.

Lewat karya berupa lukisan dan mural ketiganya menghadirkan cerita yang lahir dari pengalaman paling personal. Ada yang berbicara tentang hubungan dengan keluarga, penyalahgunaan obat antidepresan, hingga relasi manusia dengan kekuasaan. Semua dipertemukan dalam satu tema, dosa yang ternyata begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Novan, sapaan akrab Novantri, mengatakan pemilihan tema Cap Tiga Dosa berangkat dari gagasan tentang “kenakalan” yang dimiliki setiap orang, baik sebagai individu maupun seniman.

Cap tiga itu antara kami bertiga. Kami mengangkat kenakalan, baik kenakalan secara personal maupun artistik. Kenakalan-kenakalan ini menarik dijadikan sebuah tema,” ujarnya.

Menurutnya, pameran ini tidak ditujukan kepada kelompok tertentu. Siapa pun dipersilakan memaknai karya-karya yang dipamerkan sesuai pengalaman masing-masing. Ia percaya, bahwa kejujuran adalah fondasi utama dalam berkarya.

“Siapa yang merasa. Itu luas sekali. Bisa mengkritisi penguasa, teman, atau lingkungan. Kalau bikin karya harus jujur,” tambahnya.

Kejujuran itu juga hadir dalam cara Bagong alias Bagus Priyo saat membangun karyanya. Melalui mural dan akrilik di atas kertas, ia mengangkat cerita tentang dosa terhadap keluarga. Menariknya, sebagian besar idenya diperoleh dari hasil riset dan wawancara dengan orang-orang di sekitarnya.

Salah satu kisah yang diangkat menceritakan seseorang yang diam-diam meminum minuman keras milik ayahnya, lalu menggantinya dengan air putih agar botolnya tetap terlihat penuh.

“Kelihatannya sederhana, tapi itu bentuk dosa terhadap orang tua,” tutur Bagong.

Sementara itu, Ndraset, pemilik nama asli Indra Setiawan, memilih membuka pengalaman hidupnya sendiri. Lewat karya berjudul Dokter Iwan, ia menampilkan 72 salinan resep obat antidepresan yang pernah diterimanya setelah menjalani terapi dengan psikiater.

Karya tersebut berangkat dari pengalaman menyalahgunakan obat antidepresan yang diperoleh secara ilegal. Setelah kehilangan ayah dan anaknya, ia benar-benar mengalami depresi hingga akhirnya menjalani pengobatan melalui jalur medis.

Awalnya saya mendapatkan obat itu secara ilegal. Setelah benar-benar mengalami depresi, saya akhirnya ke psikolog, lalu dirujuk ke psikiater. Dari situ saya sadar, ternyata pengobatan memang ada jalurnya,ungkapnya.

Mereka sepakat bahwa pameran Cap Tiga Dosa ini buka tentang mencari siapa yang paling berdosa. Pameran ini menjadi ruang untuk mengakui bahwa setiap orang pernah berbuat salah, entah kepada keluarga, orang lain, maupun dirinya sendiri.

Mungkin itu sebabnya mereka memilih membuka pameran ini dengan satu kalimat sederhana: “Banyak dosa di sekitar kalian.” Kalimat yang terdengar seperti sindiran, tetapi sesungguhnya merupakan ajakan untuk bercermin.

Selama delapan hari penyelenggaraan, Pameran Cap Tiga Dosa yang diinisiasi oleh tiga perupa—Novan, Bagong, dan Ndraset—berkolaborasi dengan kolektif Gembiralokaria ini juga menghadirkan beberapa program menarik lainnya. Mulai dari workshop, pertunjukan musik, visual mapping, kolaborasi kuliner, hingga pop-up market yang membuka ruang pertemuan antara seniman dan publik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *