Empat Musim Pertiwi dan Keberanian yang Tersandung Eksekusi

Film Empat Msuim Pertiwi

Film-film Indonesia yang mewakili Tanah Air di ajang Academy Awards atau Oscar kerap membawa isu ketimpangan sosial sebagai salah satu benang merahnya. Meski penonton Indonesia tumbuh dengan film-film populer Hollywood, karya lokal seperti Gadis Kretek menunjukkan bahwa cerita yang berakar pada pengalaman dan persoalan masyarakat sendiri juga mampu memikat penonton.

Serial Gadis Kretek menjadi salah satu kolaborasi Kamila Andini sebagai sutradara dan Ifa Isfansyah sebagai produser yang mendapat perhatian luas. Keduanya kembali bekerja sama dalam Empat Musim Pertiwi, sebuah film yang berani mengangkat kekerasan seksual, patriarki, dan ketidakadilan yang dialami perempuan.

Film ini berfokus pada Pertiwi (Putri Marino), seorang perempuan yang kembali ke desa asalnya setelah 20 tahun mendekam di penjara. Kepulangannya disambut dingin oleh warga desa, bahkan oleh keluarganya sendiri. Pertiwi dipenjara karena membunuh seseorang dalam upaya membela diri dari kekerasan seksual yang dialaminya.

Berdurasi 2 jam 17 menit, Empat Musim Pertiwi bergerak dengan tempo lambat. Ceritanya menelusuri trauma Pertiwi, stigma terhadap korban kekerasan seksual, dan benturan dengan sistem sosial patriarkal. Film ini juga menghadirkan sejumlah elemen surealis yang berpuncak pada akhir cerita.

Korban yang Terus Disalahkan

Salah satu bagian paling kuat dalam Empat Musim Pertiwi adalah keberaniannya mengangkat fenomena victim blaming, atau kecenderungan menyalahkan korban atas kekerasan yang dialaminya.

Hal ini terlihat ketika Raras, seorang gadis Tuli, bersama ibunya melapor ke polisi setelah mengalami kekerasan seksual. Alih-alih memberikan perlindungan, aparat justru mempertanyakan kebenaran pengakuan korban. Pertanyaan “Beneran diperkosa?” menjadi gambaran menyakitkan tentang bagaimana korban harus menghadapi kecurigaan bahkan sebelum memperoleh keadilan.

Pertiwi mengalami perlakuan serupa. Meski film menggambarkan pembunuhan yang dilakukannya sebagai upaya membela diri, masyarakat tetap memandangnya sebagai penjahat. Kekerasan yang ia alami seolah kalah penting dibandingkan tindakan yang ia lakukan untuk bertahan hidup.

Film ini memperlihatkan bahwa penderitaan korban tidak berhenti ketika kekerasan berakhir. Stigma sosial dan ketidakpercayaan justru dapat menjadi bentuk kekerasan lanjutan.

Namun, kritik yang kuat ini tidak selalu diikuti pengembangan cerita yang sama tajamnya. Sejumlah karakter dan konflik diperkenalkan, tetapi tidak semuanya memperoleh ruang yang cukup untuk berkembang.

Pertiwi dan Kemampuan yang Terlalu Mudah Muncul

Setelah keluar dari penjara, Pertiwi digambarkan memiliki banyak kemampuan. Ia bisa bertarung, memahami bahasa isyarat, memasang CCTV, merakit sistem listrik tenaga surya, hingga memiliki koneksi untuk mencari seseorang di pedalaman Papua.

Kemampuan tersebut membuat Pertiwi terasa terlalu mudah mengatasi berbagai persoalan. Proses yang membentuk keterampilan dan sumber daya itu tidak banyak diperlihatkan, sehingga beberapa penyelesaian konflik terasa kurang meyakinkan.

Ketika menyelamatkan Raras, misalnya, Pertiwi langsung mengambil peran sebagai penerjemah bahasa isyarat. Padahal, ibu Raras yang mendampingi anaknya seharusnya memiliki ruang untuk menerjemahkan sendiri. Pertiwi kemudian mengajak Raras dan sejumlah karakter marginal tinggal di rumah kontrakannya, seolah semua persoalan dapat diselesaikan dengan menyediakan tempat tinggal.

Film ini memang menjelaskan bahwa Pertiwi memiliki pengalaman berkelahi dan jaringan pertemanan dari masa penjara. Namun, penjelasan itu muncul belakangan melalui dialog, sehingga terasa seperti tambahan untuk menjelaskan kemudahan yang sebelumnya dialami tokoh utama.

Banyak Isu, Sedikit Ruang

Selain Pertiwi, film ini juga mengahdirkan karakter Mak Ira, mantan pekerja seks yang kini mengelola warung makan; Raras, gadis Tuli; Kuntet, laki-laki yang dianggap gila; serta Garong, pemuda Papua yang menjadi anak angkat kepala desa.

Kehadiran mereka menunjukkan ambisi film untuk membicarakan berbagai bentuk marginalisasi. Sayangnya, beberapa karakter terasa lebih seperti kendaraan untuk memperkenalkan isu daripada sosok yang memiliki perjalanan cerita sendiri.

Mak Ira, misalnya, menghadapi kemunafikan warga desa yang menolak lokalisasi atas nama moralitas, tetapi membiarkan perjudian dan mabuk-mabukan berlangsung. Pertiwi membelanya, tetapi tindakan impulsifnya di sebuah bar justru membuat warung Mak Ira terancam ditutup.

Pertiwi kemudian menawarkan Mak Ira menjadi rekan bisnis katering. Namun, usaha tersebut tidak berkembang menjadi bagian penting cerita. Film ingin berbicara tentang agensi perempuan, tetapi belum cukup mendalami tekanan ekonomi dan sosial yang membatasi pilihan karakter seperti Mak Ira.

Konflik lain, seperti hubungan Pertiwi dengan Bisma dan Niken, serta ambisi Jonet menjadi kepala desa, juga menambah kepadatan cerita. Hubungan romantis yang seharusnya emosional justru terasa hambar karena kedekatan antarkarakter lebih banyak dijelaskan lewat dialog daripada dibangun melalui adegan.

Metafora yang Belum Menyatu

Menariknya, film ini menggunakan berbagai simbol, mulai dari hitungan satu sampai empat yang dilakukan Pertiwi, pembangkit listrik, genset tenaga surya, siluman macan, hingga UFO.

Hitungan Pertiwi dapat dibaca sebagai siklus trauma yang terus berulang. Ia selalu berhenti di angka empat, sebelum akhirnya mampu mencapai angka lima ketika UFO muncul di akhir film. Dalam pembacaan simbolis, momen tersebut menandai kemungkinan Pertiwi keluar dari siklus traumanya.

Nama Pertiwi sendiri merujuk pada bumi atau tanah. Kehadiran perusahaan listrik yang membeli lahan desa dapat dibaca sebagai paralel antara eksploitasi alam dan kekerasan terhadap perempuan. Sementara itu, genset tenaga surya buatan Pertiwi menjadi simbol kemandirian dan hubungan yang lebih harmonis dengan alam.

Sayangnya, sejumlah metafora terasa kurang terintegrasi dengan perjalanan karakter. Kemunculan UFO, misalnya, memang telah disinggung melalui cerita Mak Ira, tetapi tetap terasa mendadak ketika menjadi bagian dari penyelesaian akhir. Simbol yang seharusnya memperdalam pengalaman emosional justru berisiko membuat penonton sibuk menebak makna.

Ketika Keadilan Berakhir dengan Jalan Pintas

Menjelang akhir, film mengungkap bahwa kekerasan seksual yang dialami Pertiwi dan Raras merupakan bagian dari lingkaran kekerasan yang terus berulang. Namun, ketika institusi hukum gagal melindungi korban, penyelesaian cerita justru bergerak melalui jalur gaib.

Ibu Raras menggunakan santet terhadap para pelaku, yakni Pak Sapto, Pak Fajar, Ayah Pertiwi, dan Jonet, yang kemudian tewas dalam sebuah acara pencalonan kepala desa. Garong juga meninggal ketika berusaha mencari dokumen bukti, sementara Pertiwi menemukan dokumen tersebut melalui petunjuk cahaya misterius.

Balas dendam ini mungkin memberi kepuasan emosional setelah berbagai ketidakadilan yang dialami para korban. Namun, kematian para pelaku tidak otomatis menyelesaikan budaya patriarki dan victim blaming yang memungkinkan kekerasan terus terjadi.

Di sinilah film terasa canggung. Ia mengangkat persoalan sistemik, tetapi penyelesaiannya lebih banyak bertumpu pada tindakan individual dan kejadian supernatural daripada perubahan terhadap sistem yang melindungi pelaku.

Berani, tetapi Belum Tuntas

Empat Musim Pertiwi berani mengangkat kekerasan seksual, stigma terhadap korban, dan ketimpangan kuasa. Namun, banyaknya isu dan karakter membuat sejumlah konflik tidak berkembang secara maksimal. Metafora yang belum sepenuhnya menyatu dan penyelesaian yang terasa terburu-buru turut mengurangi kekuatan cerita.

Film ini memiliki gagasan yang kuat, tetapi belum sepenuhnya berhasil merangkai seluruh ambisinya menjadi cerita yang utuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *