“Ada satu ciptaan Tuhan yang diciptakan tidak berpasangan, yaitu sekarang. Ini tidak ada pasangannya. Sekarang itu hanya datang satu kali dan setelah itu selamanya pergi.”
Gagasan Candra Malik (Sufi) tentang waktu ini menarik untuk direnungkan. Kemarin menjadi masa lalu dan besok adalah masa depan. Sementara itu, sekarang hadir sebagai momen yang terus bergerak. Begitu kita menyebutnya, ia sudah menjadi bagian dari masa lalu.
Dari gagasan itu, satu hal sederhana yang bisa ditangkap yaitu masalah yang benar-benar bisa dihadapi adalah masalah yang ada sekarang.
Saat kamu sedang membaca tulisan ini, misalnya. Mungkin ada pekerjaan yang belum selesai, masalah keluarga yang belum menemukan jalan keluar, atau keputusan yang membuatmu gelisah. Semua itu bisa memenuhi pikiran. Namun, saat ini kamu sedang membaca. Ya itulah bagian kehidupan yang sedang berlangsung dan itu adalah letak masalah yang sebenarnya, tugasmu hanya menghadapi dan menjalaninya.
Seringnya, manusia selalu merasa harus menyelesaikan semua masalah sekaligus. Pikiran pun kembali ke masa lalu, mengulang kejadian yang sudah selesai, membayangkan jawaban yang seharusnya kita berikan, atau menyesali keputusan yang telanjur diambil. Akibatnya, energi habis untuk berhadapan dengan sesuatu yang tidak lagi bisa diubah.
Sebaliknya, ketika pikiran melompat ke masa depan, kita mulai membayangkan kemungkinan terburuk. Kegagalan, kekhawatiran, kehilangan, dan berbagai keadaan yang belum tentu terjadi memenuhi kepala. Kita berusaha menyelesaikan masalah yang belum datang, sementara persoalan hari ini masih menunggu untuk dihadapi.
Penyesalan menahan kita di masa lalu, sementara kekhawatiran membawa pikiran ke masa depan. Keduanya membuat kita luput menjalani satu-satunya waktu yang benar-benar kita miliki yaitu sekarang.
Kehendak dan Kuasa-Nya
Dalam memahami waktu dan kehidupan, hubungan antara irādah dan qudrah Allah dapat menjadi bahan refleksi. Di dalam ilmu kalam, irādah berarti kehendak-Nya, sedangkan qudrah berarti kuasa-Nya. Keduanya merupakan sifat kesempurnaan Allah yang tidak dapat disamakan dengan kehendak dan kuasa manusia.
Sederhananya, irādah berkaitan dengan apa yang Allah kehendaki, sementara qudrah berkaitan dengan kuasa-Nya untuk mewujudkan sesuatu. Keduanya bersifat azali, sehingga tidak ada urutan waktu antara kehendak dan kuasa Allah. Ketika irādah disebut lebih dahulu daripada qudrah, hal itu merupakan cara manusia memahami proses terjadinya sesuatu. Kehendak menentukan, dan kuasa mewujudkan.
Pemahaman ini mengingatkan bahwa manusia tidak memiliki kendali atas segala hal. Kita tidak selalu bisa memilih keadaan yang datang, apalagi mengetahui apa yang akan terjadi esok. Namun, kita tetap memiliki tanggung jawab untuk menyikapi keadaan yang hadir melalui ikhtiar, doa, dan tawakal.
Antara Waktu dan Penerimaan
Dalam tradisi tasawuf, terdapat konsep waqt, yaitu saat atau keadaan yang sedang dialami seseorang. Gagasan ini mengajak manusia memperhatikan keadaan yang hadir dan menjalani tanggung jawab yang menyertainya.
Misal, ketika seorang sedang bekerja, hadir dan kerjakan pekerjaan itu. Saat berbicara dengan seseorang, dengarkan. Ketika menghadapi masalah, lihat apa yang bisa dilakukan sekarang. Tapi, hadir sepenuhnya dalam suatu keadaan juga berarti menyadari apakah keadaan tersebut masih memberi ruang bagi kita untuk tumbuh.
Seseorang bisa saja bekerja dengan baik, memberikan hasil terbaik, dan memiliki kemampuan yang mumpuni. Namun, jika lingkungan kerjanya tidak menghargai kontribusi atau membuatnya merasa tidak berarti, keberhasilan itu bisa kehilangan makna bagi dirinya.
Menyadari hal tersebut juga bagian dari memahami keadaan saat ini. Sebuah keadaan ketika kita dapat mengevaluasi apa yang perlu dipertahankan, apa yang perlu diperbaiki, dan kapan saatnya mencari tempat yang lebih menghargai diri kita.
Namun perlu diingat, penerimaan terhadap keadaan bukan berarti menyerah. Kita tetap bisa memperbaiki situasi, mencari pertolongan, dan menyusun rencana. Dengan demikian, tenaga dapat diarahkan pada langkah yang benar-benar bisa dilakukan.
Menerima, lalu Menjalani
Keimanan kepada takdir sering memunculkan pertanyaan, jika segala sesuatu berada dalam kehendak Allah, bagaimana dengan pilihan dan tanggung jawab manusia?
Dalam pembahasan para ahli hikmah, hubungan antara takdir dan ikhtiar manusia mengajarkan bahwa kita perlu menerima hal-hal di luar kendali sekaligus tetap bertanggung jawab atas pilihan sendiri. Kuasa Allah meliputi segala sesuatu, sementara manusia tetap menjalani hidup melalui ikhtiar dan kesadaran.
Pada kehidupan sehari-hari, kita tidak perlu menunggu kepastian tentang masa depan untuk mulai bertindak. Belajar, bekerja, meminta maaf, memperbaiki kesalahan, dan berdoa merupakan bagian dari ikhtiar. Sementara itu, hasil akhirnya tetap berada dalam kuasa-Nya.
Dengan begitu, masa lalu dapat menjadi pelajaran dan masa depan dapat menjadi arah. Keduanya menemukan makna ketika digunakan untuk menjalani saat ini dengan lebih baik.
Sekarang Adalah Tempat Memulai
Hidup tidak selalu memberi kita kendali atas apa yang terjadi. Ada kehilangan yang tidak bisa dibatalkan, ketidakpastian yang belum bisa dijawab, dan masalah yang membutuhkan waktu panjang untuk diselesaikan.
Meski demikian, kita tetap bisa memilih bagaimana cara untuk meresponsnya. Jika ada kesalahan di masa lalu, lakukan perbaikan yang mungkin hari ini. Untuk kecemasan tentang esok, ambil langkah yang bisa dipersiapkan sekarang. Ketika solusi belum ditemukan, berikan diri sendiri ruang untuk bernapas dan mencari jalan.
Sering kali, niat baik datang sebagai dorongan kecil di dalam hati. Kita ingin membantu seseorang, menghubungi teman yang sedang kesulitan, atau melakukan sesuatu yang bermanfaat. Namun, dorongan itu kerap ditunda dengan alasan masih ada waktu.
Padahal, dorongan tersebut bisa singkat. Ketika kita menundanya, kesempatan di depan mata mungkin sudah berlalu. Jika dorongan itu hadir dan kita mampu menindaklanjutinya, mengapa harus menunggu?
Kemarin sudah menjadi bagian dari perjalanan, sedangkan esok masih berada dalam pengetahuan-Nya. Oleh karena itu, sekarang adalah waktu untuk berikhtiar, termasuk menjalankan kebaikan-kebaikan kecil yang sudah tahu untuk dilakukan.
Jadi, jika saat ini kamu sedang membaca tulisan ini, bacalah. Setelah itu, hadapi apa yang menunggumu, satu demi satu. Sebab masalahmu adalah sekarang, dan sekarang pula tempatmu memulai.