Setelah memperkenalkan diri lewat dua single “Checks and Calls” dan “Gulf”, unit indie rock asal Malang, Liar’s Wife, resmi merilis debut EP bertajuk All The What Ifs. Mini album ini lebih dulu hadir di Bandcamp pada 4 September 2025, kemudian menyusul di seluruh digital streaming platform pada 26 September 2025.
Liar’s Wife digawangi oleh Savia Diva (vokal), Ardiansyah Dwi atau Jojo (gitar), Stephen Fernando (gitar), Rizal “Gaplek” Nandha (bass), dan Thariq Hasnan (drum). Dalam All The What Ifs, mereka merangkum perjalanan emosional yang berpusat pada cinta, jarak, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah terjawab.
Catatan Emosional dan Pertanyaan yang Tak Terjawab
Lima lagu dalam EP ini menjadi semacam catatan perjalanan emosional tentang hubungan yang perlahan runtuh, pahitnya perpisahan, hingga usaha menyimpan kenangan agar tak benar-benar hilang. “Buatku, All The What Ifs adalah cara merangkum pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah benar-benar terjawab. Ada banyak ‘andaikan’ yang dulu hanya tersimpan di kepala, dan lima lagu ini jadi ruang untuk mengatakannya,” ujar Stephen Fernando.
Savia Diva menambahkan, “Banyak momen di hidupku yang membuatku bertanya ‘bagaimana kalau dulu aku memilih jalan lain’. Lewat All The What Ifs, aku menuangkan perasaan itu ke dalam lagu.”
EP ini diproduseri langsung oleh drummer mereka, Hasnan Thariq, dan direkam di home studio Wiars Life Records. Lirik-liriknya ditulis bersama oleh Stephen, Savia, dan Thariq, sementara aransemen digarap kolektif bersama Jojo dan Rizal. Proses mixing dan mastering juga ditangani Thariq, dengan Ebing Doelano dipercaya mengerjakan artwork sampul.
Dari Panggung Pestapora ke Insiden di Jakarta
Setelah perilisan di Bandcamp, Liar’s Wife tampil di Pestapora 2025 usai lolos kurasi dari kolektif Paguyuban Crowd Surf. Penampilan mereka di PCS Rumble Stage mendapat sambutan positif, namun sempat diwarnai ketidaknyamanan karena festival tersebut bekerja sama dengan sponsor tambang yang bermasalah secara ekologis dan HAM.
Menurut pernyataan resmi, mereka baru mengetahui hal itu sehari setelah tampil. “Kami sepenuhnya terlewat dalam sampainya informasi keterlibatan sponsor kontroversial tersebut sampai setelah Pestapora day 1 selesai. Kami mohon maaf kepada para fans dan pengunjung atas kejadian ini. Sikap kami terhadap masalah struktural yang terjadi tidak akan berubah,” jelas Jojo.
Tak lama berselang, insiden lain terjadi saat mereka berada di Jakarta. Setelah menonton gigs di Krapela, kamar hotel mereka dibobol dua orang tak dikenal. Band kehilangan lima helai kaos merchandise dan satu tas souvenir dari Joyland milik Stephen. Setelah menekan pihak hotel dengan bantuan teman mereka, Rieva, kerugian akhirnya diganti. “Walaupun yang hilang cuma merch dan tas, kalau ini kami diamkan, mereka tidak akan belajar dari kesalahan,” kata Rizal.
Antara “Kemalangan” dan Langkah Awal Baru
Meski beberapa kejadian sempat menguji, Liar’s Wife tetap melihatnya sebagai bagian dari perjalanan mereka. “Mungkin karena kami band dari Malang, ada sedikit ‘kemalangan’ sebelum kami meraih kesuksesan,” seloroh Thariq.
All The What Ifs kini sudah bisa didengarkan di berbagai platform musik digital. Mini album ini menjadi langkah awal Liar’s Wife untuk menegaskan identitas mereka di kancah indie rock Indonesia—kisah tentang cinta, kehilangan, dan segala “andaikan” yang tak pernah benar-benar selesai.