berrbahagia.com – Teater Patri dari Universitas Pamulang (UNPAM), Tangerang Selatan, menjadi sorotan dalam malam penganugerahan Festival Teater Mahasiswa Nasional (Festamasio) XII Malang. Pasalnya, Teater Patri sukses membawa pulang sejumlah penghargaan utama, Sabtu (25/4/2026).
Melalui pementasan bertajuk Kampung Sepuh (Kisah Tanah yang Berbicara), Teater Patri meraih empat penghargaan sekaligus, yakni Naskah Terbaik, Aktor Terbaik, Sutradara Terbaik, serta Penyaji Terbaik 1.
Penghargaan Aktor Terbaik diraih oleh Darma Eka Paksi atas perannya sebagai Ketua Adat, sementara kategori Sutradara Terbaik diberikan kepada Lucky Pasha Herzena.
Selain juara dari kategori tersebut, Teater Patri turut masuk nominasi pada tiga kategori lain, yaitu nominasi aktris pendamping terbaik, nominasi aktris terbaik, dan nominasi penata rias dan kostum terbaik.
Sutradara Kampung Sepuh, Lucky Pasha Herzena mengaku, capaian tersebut berada di luar ekspektasi tim. Mengingat Festamasio XII merupakan panggung debut bagi Teater Patri tampil dalam ajang festival teater mahasiswa tingkat nasional.
“Ini debut pertama kami di Festamasio. Jujur tidak menyangka bisa mendapatkan hasil seperti ini,” ujarnya saat ditemui usai malam penganugerahan.
Ia menjelaskan, Kampung Sepuh berangkat dari riset yang dilakukan di wilayah Banten, dengan mengangkat isu ekologi melalui sudut pandang masyarakat adat. Dalam prosesnya, tim tidak hanya melihat dari satu sisi, tetapi juga mencoba memahami posisi pemerintah dalam relasi tersebut.
“Awalnya kami melihat kegelisahan soal ekosistem dari masyarakat adat. Tapi ketika riset, kami juga menemukan bagaimana sudut pandang pemerintah. Dari situ kami melihat ini sebagai persoalan sudut pandang yang berbeda, meskipun sama-sama menginginkan kemajuan,” katanya.
Melalui karya tersebut, Teater Patri mencoba menghadirkan narasi yang tidak berpihak secara tunggal. Mereka ingin menunjukkan bahwa relasi antara masyarakat adat dan pemerintah tidak selalu hitam-putih.
“Kami ingin menyampaikan bahwa masyarakat adat yang dianggap tertindas belum tentu sepenuhnya benar, dan pemerintah juga belum tentu salah. Yang penting adalah bagaimana keduanya bisa saling memahami,” ujarnya.

Secara latar, naskah ini terinspirasi dari masyarakat adat Kesepuhan Karang di Banten. Meski berbasis riset, Lucky menegaskan bahwa pementasan tetap memberi ruang eksplorasi artistik di atas panggung.
“Riset itu menjadi pijakan. Tapi dalam pementasan, kami tetap melakukan eksplorasi untuk menghadirkan bentuk yang berbeda, tanpa meninggalkan semangat dari riset itu sendiri,” jelasnya.
Dari sisi proses, Kampung Sepuh disebut telah melalui beberapa tahap pengembangan sebelum akhirnya dipentaskan di Festamasio XII. Meski demikian, waktu persiapan tetap terasa singkat karena beririsan dengan kalender akademik.
“Kampung Sepuh ini sudah masuk layar keempat, artinya melalui beberapa tahap pengembangan. Naskah berbasis riset itu punya banyak celah yang bisa digali. Dari situ penulis kami, Bangkit Sanjaya, mencoba mengambil sudut lain dari hasil riset hingga akhirnya tercipta karya ini,” jelasnya.
Meski dihadapkan pada keterbatasan waktu, tim tetap menjaga konsistensi latihan dan komitmen antar elemen produksi mulai dari aktor, sutradara, hingga kru yang kemudian berbuah pada capaian mereka di Festamasio XII.
“Untuk durasi memang terasa terburu-buru, tapi kami tetap berusaha menjaga komitmen dari semua elemen, baik aktor, sutradara, kru, hingga pimpinan produksi,” tuturnya.
Atas capaian yang diraih, Lucky dan tim mengaku perasaan timnya masih campur aduk. Dinilainya penghargaan tersebut menjadi pengalaman berharga, terutama bagi Teater Patri yang baru pertama kali tampil di Festamasio.
“Selain pencapaian ini, tujuan kami adalah bisa terus membersamai teman-teman teater kampus di seluruh Indonesia,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menyebut, dukungan dari berbagai pihak menjadi salah satu faktor penting di balik capaian tersebut, mulai dari keluarga, alumni, hingga pihak kampus.
“Doa orang tua, dukungan teman-teman, dan kampus tentu sangat berpengaruh bagi kami,” pungkasnya. (ber)