Alon Satria Pamerkan Sembilan Karya Airbrush di Terjalin Art Exhibition Malang

berrbahagia.com – Seniman graffiti asal Malang, Robby Satria, memamerkan sembilan karya dalam Terjalin Art Exhibition yang berlangsung di LOGE Bakery Coffee Space. Berbeda dari kebiasaannya menggambar di ruang jalanan, kali ini Alon menghadirkan karya-karya berukuran kecil di atas kertas Canson menggunakan teknik airbrush.

Melalui karya-karya tersebut, Alon mengangkat tema tentang kemungkinan dan imajinasi. Ia membangun setiap karya dengan teknik layering atau berlapis, yakni menumpuk satu objek di atas objek lainnya hingga membentuk visual baru yang lahir dari proses membayangkan.

“Konsepnya lebih mengalir mengikuti imajinasi. Saya menggambar satu objek, lalu ditimpa lagi dengan objek lain sampai akhirnya menjadi bentuk yang utuh,” ujarnya.

Pria berambut gondrong itu mengatakan, sembilan karya yang dipamerkan dikerjakan secara bersamaan sehingga secara otomatis membentuk satu benang merah yang sama. 

Bentuk-bentuk yang muncul pun tidak dibatasi oleh tema tertentu dan dapat berkembang menjadi berbagai kemungkinan visual, termasuk karakter monster maupun figur imajinatif lainnya.

Di balik karya tersebut, terdapat kegelisahan sederhana yang berangkat dari aktivitasnya sebagai seniman graffiti. Ia mengaku sering memiliki sisa cat semprot yang tidak lagi cukup digunakan untuk menggambar di tembok jalanan dan berakhir terbuang.

Dari kondisi itu, Alon Satria, sapaan karibnya, mulai bereksperimen memanfaatkan sisa cat semprot melalui teknik airbrush pada media yang lebih kecil.

“Saya berpikir bagaimana caranya barang yang sudah saya beli dan miliki tidak terbuang sia-sia. Akhirnya sisa cat semprot itu saya olah lagi menjadi karya di media yang lebih kecil,” katanya.

Keikutsertaannya dalam Terjalin Art Exhibition juga menjadi tantangan tersendiri. Selama ini Alon Satria lebih akrab dengan ruang jalanan dan bidang gambar berukuran besar. Sementara dalam pameran ini, para seniman diminta berkarya dalam format menyerupai kartu pos.

Menurutnya, tantangan terbesar adalah menerjemahkan energi dan kebebasan yang biasa hadir di tembok jalanan ke dalam medium yang jauh lebih kecil.

“Yang sulit adalah bagaimana tetap menumpahkan idealisme dan keinginan kita dengan rasa yang sama seperti saat menggambar di jalanan. Tapi justru hal baru seperti ini memberi kesegaran dalam proses kreatif,” ujarnya.

Memasuki hari kedua pameran, salah satu karyanya telah terjual dengan harga Rp250 ribu. Dia berharap pameran seperti Terjalin dapat membantu membuka pasar seni yang lebih luas sekaligus mengenalkan karya-karya collectible kepada publik.

“Harapannya bisa membuka ekosistem pasar seni yang collectible dan menjadi sarana edukasi bahwa dunia gambar itu sangat luas, tidak hanya terbatas pada hal-hal yang konvensional,” tutupnya. (min)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *