berrbahagia.com – Ratusan karya berukuran kartu post memenuhi art space LOGE Bakery Coffee Space, Jalan Dr. Sutomo Nomor 34A, Klojen, Kota Malang. Selama tiga hari, mulai tanggal 29-31 Mei 2026, karya-karya tersebut hadir dalam Terjalin Art Exhibition, pameran seni rupa yang mengusung tema “Rekam yang Tersimpan, Jalin yang Terlupakan”
Berbeda dari kebanyakan pameran seni rupa yang menampilkan karya berukuran besar, Terjalin justru mengajak para seniman untuk berkarya dalam format menyerupai kartu pos. Format tersebut dipilih untuk membuka ruang partisipasi yang lebih luas sekaligus menjadi metafora hubungan antarpelaku seni.
Ketua Pelaksana Terjalin Art Exhibition, Daniela Benedicta, mengatakan konsep tersebut berangkat dari mata kuliah Aplikasi Manajemen Seni Program Studi Seni Rupa Universitas Brawijaya. Pameran ini menjadi kelanjutan dari rangkaian pameran Temu Tinemu yang telah digelar oleh angkatan sebelumnya.
Menurutnya, istilah kartu pos digunakan sebagai simbol perjumpaan dan koneksi yang ingin dibangun melalui pameran.
“Saya meminjam istilah kartu pos sebagai metafora supaya sesama pelaku seni dan penikmat bisa terhubung. Seperti mengirim karya ke sini, lalu dipamerkan, kemudian kita bertemu dan berjejaring,” ujarnya saat ditemui di lokasi pameran, Sabtu (30/5/2026).

Selain menjadi simbol hubungan, ukuran karya yang kecil juga dipilih agar semakin banyak seniman dapat terlibat dalam satu ruang yang sama. Melalui sistem undangan dan open call, Nela, sapaan akrabnya, membuka kesempatan bagi siapa saja untuk berpartisipasi.
Sebanyak 73 seniman dan satu komunitas seni terlibat dalam pameran ini. Total karya yang dipamerkan diperkirakan mencapai lebih dari 150 karya.
Nela menambahkan, seluruh karya yang masuk diterima tanpa proses seleksi kuratorial di tahap awal. Kurasi baru dilakukan saat proses penataan ruang karena jumlah karya yang masuk melebihi perkiraan pihaknya.
“Target awalnya sekitar 100 sampai 200 karya. Ternyata saat penutupan open call jumlah karya yang datang membludak, jadi kami menyiasati display supaya semua seniman tetap bisa terwakili,” katanya.
Di sisi lain, format kartu pos juga menjadi tantangan tersendiri bagi para seniman. Menurutnya, banyak peserta yang terbiasa mengerjakan karya dalam ukuran besar sehingga harus menyesuaikan pendekatan ketika bekerja di bidang yang jauh lebih kecil.
“Ada beberapa seniman yang bilang mereka sudah tidak tahu bagaimana membuat karya sekecil itu. Justru itu yang menarik untuk dilihat,” katanya.
Ia menilai, karya berukuran kecil menghadirkan pengalaman yang berbeda karena memungkinkan hubungan yang lebih intim antara karya dan penikmatnya.
Selain pameran, Terjalin juga menghadirkan sejumlah agenda pendukung seperti bincang seni bersama berbagai komunitas seni di Malang, di antaranya Konco Sketch, Teras Gambar, dan Malang Graffiti Movement. Rangkaian acara akan ditutup dengan penampilan DJ set oleh Ellak dan CDUBJONN.
Sementara itu, respon pengunjung selama pameran berlangsung terbilang positif. Tak hanya menjadi ruang temu bagi pelaku seni dan penikmat, sejumlah karya yang dipamerkan juga berhasil menemukan pemilik baru.
Nela menyebut, karya-karya dalam pameran ini memang diperjualbelikan dengan rentang harga mulai Rp50ribu hingga Rp500ribu. Pengunjung yang membeli karya bahkan dapat langsung membawanya pulang.
“Yang paling menyenangkan adalah melihat orang-orang akhirnya bisa berkumpul lagi. Selain itu, ada beberapa karya yang sudah terjual,” pungkasnya. (min)