Nadin Amizah kembali melahirkan anak ke-2 nya yang siap menyapa kalian semua. “Untuk Dunia, Cinta, dan Kotornya” adalah judul abum yang disuguhkan bagi kalian pengikut dan pendengar setia sosoknya yang acapkali disapa “Ibu Peri” dengan satu jenis warna musik.
“Semoga kamu mau memeluk anakku ini dengan erat dan penuh cinta,” kata Nadin Amizah di salah satu postingan Instagramnya.
Tulisan ini berupa review singkat terhadap 11 track lagu di album “Untuk Dunia, Cinta, dan Kotornya”. Impresi berupa kalimat singat, penggalan lirik, dan beberapa screenshot yang akan kugunakan di review ini :
- JANGAN DITELAN
Sebuah pengantar yang singkat namun berhasil memanjakan pendengar dengan ketukan-ketukan bass yang lembut, dan lirik yang disajikan mengandung makna yang dalam.
“Jangan ditelan banyak-banyak aku dan kotorku, persetan siapa aku”

- BUNGA TIDUR
Manis, reflektif, dan motivative. Lagu ini seperti seorang perempuan yang hidupnya dihantui rasa takut. Liriknya yang mengenai dinamika interaksi antara menyemangati dan memberi makan ketakutan itu.
“Jangan pergi dulu, biar waktu berlalu dan semua sakitmu yang kau bawa akan runtuh”

- RAYUAN PEREMPUAN GILA
Seperti judulnya, acapkali lagu ini dilabeli dengan “cegil national anthem”. Menggunakan nuansa music keroncong bossa, Nadin mengajak pendengarnya untuk joget, main, dan rayu-rayu biar makin dicintai.
“Diam-diam berusaha, selalu tahu akan ditinggalkan namun demi tuhan aku berusaha”

- AH
Lagu ini menurutku easy-listening. Seperti ketukan-ketukan jazz pada umumnya, lagu ini membawa kesan bahagia. Setelah menjalani hidup penuh ketakutan dalam hubungan, akhirnya bertemu juga dengan cinta yang kerjaannya tidak hanya menguras air mata.
“Dunia saksinya saat ku rekah, Dicinta penuh sehalus seharusnya, Aku bersinar saat ku rekah, Dicinta penuh sebaiknya, Bahagiaku kau usahakan”

- SEMUA AKU DIRAYAKAN
“Semua Aku Dirayakan” menjadi penenang untuk kekhawatiran yang melekat bertahun-tahun bagi para pendengar dengan percaya yang sama. Lagu ini juga menunjukkan sisi romantis seorang Nadin yang ditulis untuk orang yang dicintai.
“Jika malam datang, Dan takut menyerang, Kau menggenggam apa yang kuragukan”

- KEKAL
Di awal intro yang sekilas mirip intro Kangen miik Dewa 19, ternyata Nadin mengemas Kekal dengan ciamik. Akhirnya bukan lagi sebuah tarian yang tak kunjung selesai, tetapi sekarang sudah menjadi tawa yang tak selesai dan terulang-ulang.
“Di kekalanmu dan aku telah menyaksikankan, yang telah hancur pelan-pelan kau kembalikan, padaku”

- DI AKHIR PERANG
Gokil!, menurutku ini benar-benar kayak Victory Song banget. Lagu ini adalah penutup dari riuh rendah kecamuk perangnya isi kepala. Saat kamu akhirnya bisa menerima segalanya, menemukan seseorang yang mampu menerimamu dan seluruh isi kepalamu.
“Perang telah usai, perang telah usai… Aku bisa pulang, ku baringkan panah Dan berteriak menang”

- TAPI DITERIMA
Lagu ini menurutku proses meleburnya Nadin ke seseorang yang dicintainya. mereka yang selalu sabar menanti Nadin bermekaran, mereka yang selalu menyemangati Nadin disaat Nadin berproses untuk mekar. Dan bagiku “Tapi Diterima” adalah most favorite lagu di album ini.
“Sempurna saat sedang mencoba menjadi semua yang ku minta, belum pernah aku berusaha sebegitu, tapi ditanganmu aku tumbuh”

- BERPAYUNG TUHAN
Lagu cinta kali ini, lebih kental dengan sosok Nadin sendiri. Sepanjang proses tumbuhnya, selalu didampingi oleh sosok yang menjaganya. Namun semua orang harus mendewasa. Saat sosok penjaga hilang, siapa yang harus diandalkan? bagaimana kalau selama ini sosok penjaga itu bersemayam di dalam diri kita sendiri.
“Biar kita jadi doa yang nyata, bermuara pada lapang yang indah, tau tujuan hilang pun tetap kembali, hendak jauh dekat tetapi selalu lebur”

- TAWA
Lagu ini ampuh untuk memantik anak kecil yang ada di dalam diri kita, dan dengan instan berlanjut memantik banyak memori lain di panjangnya perjalanan hidup kita. Nadin menyuguhkan untuk pertama kalinya, sebuah sudut pandang penulisan yang lebih berbunga.
“Tertawalah, tertawa, peluk semua doa, tertawalah semoga semesta mendengar kita, Belajar menelan apa pun aman yang ada”

- NADIN AMIZAH
Dibanding menyebutnya “Ibu Peri” aku justru lebih menganggap Nadin sebagai “Penyihir”. Penyanyi paling egois yang hanya menulis tentang dirinya sendiri. Tapi aku suka. Mungkin karena kami sama-sama datang dari tanah yang terbakar api dan lidah yang terbelah dua dan semua hal-hal baik yang kita tunjukkan pada dunia hanyalah apa yang masih berhasil diselamatkan hidup. “Penyihir” ini, menyuapiku dengan mantra surganya, menenggelamkanku dalam lirik neraka yang begitu sama dengan apa yang aku terima selama di dunia.
“Siapapun aku apapun yang ku tahu, kurang banyak masih belum cukup, tapi ku panggil namanya “Hei Nadin Amizah Ku tahu kamu” “

Album Nadin Amizah itu sendiri mengusung tema menemukan cinta untuk diri sendiri melalui cinta dari orang-orang terkasih. Nadin ingin meleburkan konsep bahwa mungkin seseorang harus dicintai oleh orang lain terlebih dahulu sebelum bisa benar-benar mencintai dirinya sendiri. Ini adalah narasi yang kuat tentang pertumbuhan dan penerimaan diri.
Terima kasih Nadin Amizah atas album cantik yang sudah ku tunggu sejak lama dengan lirik dan eksekusi yang luar biasaa!!!!!