Dunia musik Indonesia kembali diwarnai oleh kolaborasi segar dan tak biasa. Kali ini, dua band asal Bandung yang punya karakter kuat di genre masing-masing, for Revenge dan Stand Here Alone, bersatu dalam satu proyek musik berjudul “Untuk Kau yang Di Sana (UKYDS).” Kolaborasi ini terasa unik karena jarang terjadi dua band dengan gaya berbeda—rock alternatif dan pop punk—bersatu dalam satu lagu yang ditulis dan dinyanyikan bersama.
Lagu “UKYDS” bercerita tentang perasaan kehilangan, kerinduan, dan kesepian yang dalam. Vokal utama for Revenge, Boniex, menjelaskan bahwa lagu ini tidak hanya bicara soal rindu terhadap seseorang yang telah lama hilang dari kehidupan, tapi juga menggambarkan perjuangan mental seseorang yang merasa sendirian dan tidak dianggap oleh sekitarnya. Tema ini menjadi sangat relevan, terutama di tengah meningkatnya kesadaran soal kesehatan mental.
Ide kolaborasi ini muncul dari pengalaman pribadi Boniex yang selama ini kerap bertemu Stand Here Alone di berbagai panggung dan acara musik. Ia merasa momen tersebut sayang jika tidak diwujudkan menjadi karya. Meski for Revenge sudah beberapa kali berkolaborasi dengan solois, ini adalah kali pertama mereka menggarap lagu bersama band lain. Tantangannya bukan hanya dalam hal menyanyi bersama, tetapi juga dalam proses kreatif menulis lirik, menyusun melodi, dan menyatukan dua karakter band yang sangat berbeda.
Dari sisi Stand Here Alone, sang bassis sekaligus vokalis, Mbenk, menyebut bahwa proyek ini dimulai dari demo instrumental yang dikirim Boniex. Dari situ, mereka mulai membangun lagu bersama, menjalani workshop untuk menyusun lirik, serta memperkuat chemistry antar dua band. Mbenk juga menyebut bahwa prosesnya terasa spesial karena mereka pertama kalinya rekaman dengan vocal director, yaitu Kamga, yang ikut membantu mengarahkan warna vokal dalam lagu ini.
Meski berasal dari dua dunia musik yang berbeda, proses kreatif ini justru berjalan lancar. Tantangan utamanya, menurut Boniex, adalah menyatukan warna vokal dan lirik khas for Revenge yang kelam dan emosional dengan gaya Stand Here Alone yang lebih enerjik dan cerah. Tapi hasil akhirnya justru membuat lagu ini terdengar menarik, satu lagu dengan dua rasa. Penikmat musik bisa merasakan sisi emosional dari for Revenge, tapi di saat yang sama tetap mendapatkan semangat pop punk dari Stand Here Alone lewat tempo cepat dan dinamika yang khas.
Lagu “Untuk Kau yang Di Sana” juga punya nuansa nostalgia yang kuat. Menurut Boniex, ada banyak elemen musik 2000-an yang diselipkan secara sadar, agar pendengar bisa merasakan kembali semangat masa-masa awal dua band ini terbentuk. Bahkan, ia menyebut banyak orang mungkin akan terkejut saat mendengar lagu ini dan bertanya-tanya, “Ini beneran lagu for Revenge?”
Kolaborasi ini juga membuktikan bahwa kerja sama antar band bukanlah hal yang mustahil. Justru dari perbedaan karakter musik, bisa tercipta satu karya yang lebih kuat dan berani. Baik Boniex maupun Mbenk sepakat bahwa yang terpenting dalam kolaborasi semacam ini bukan soal siapa yang lebih dominan, tapi bagaimana dua entitas musik bisa saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain. Mereka berharap, lagu ini bisa menjadi jembatan emosional bagi pendengar yang sedang mengalami kehilangan atau menyimpan perasaan yang tak sempat disampaikan pada seseorang yang telah tiada.
Lagu “Untuk Kau yang Di Sana (UKYDS)” resmi dirilis pada 15 Juli 2025 dan sudah bisa dinikmati di semua platform musik digital. (min)