GSSTF Suguhkan Pertunjukan “Tari Menari”, Angkat Relasi Manusia-Alam di Festamasio XII Malang

Pementasan teater bertajuk Tari Mentari dari GSSTF (Gelanggang Seni Sastra Televisi dan Film) Universitas Padjadjaran.

berrbahagia.com – Pementasan teater bertajuk Tari Mentari dari GSSTF (Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film) Universitas Padjadjaran menjadi salah satu sajian dalam rangkaian Festamasio XII di Sasana Krida Universitas Negeri Malang, Rabu (22/4/2026).

Disutradarai oleh Tubagus Sukma, karya ini membawa pendekatan yang berbeda. Unsur religi dan tari menjadi bagian yang cukup menonjol dalam pementasan tersebut.

Sukma menyebut, Tari Mentari merupakan pengalaman pertamanya terlibat dalam kompetisi teater tingkat nasional. Ia dipercaya menyutradarai naskah yang ditulis oleh May, yang di lingkungan GSSTF disebut sebagai “lurah” atau ketua.

“Waktu itu ada dua opsi judul, tapi akhirnya kami memilih Tari Mentari. Kami ingin mencoba hal baru, memasukkan unsur religi dan tarian ke dalam garapan,” ujarnya.

Secara premis, Tari Mentari mengangkat gambaran masyarakat yang telah dikaruniai kehidupan dan kekayaan alam, namun justru terjebak dalam sikap tamak. Kondisi tersebut kemudian divisualkan melalui sosok Mentari sebagai representasi Tuhan yang perlahan “memalingkan wajahnya”, ditandai dengan cahaya yang tak lagi menyinari bumi.

Tema “ekologi sosial” yang diusung dalam Festamasio XII diakui menjadi tantangan tersendiri dalam proses penggarapan. Sukma menjelaskan, pemahaman terhadap tema tidak dibangun sendirian, melainkan melalui diskusi intens dengan penulis naskah.

“Awalnya terasa cukup berat, tapi kami pelan-pelan memaknai bersama. Ide awal datang dari penulis yang memang sedang tertarik dengan mitologi,” katanya.

Pendekatan surealis dipilih sebagai cara untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke atas panggung. Beberapa adegan bahkan disebut berangkat dari pengalaman personal, termasuk visualisasi laut yang terinspirasi dari mimpi sang sutradara.

Penampilan GSSTF di Festamasio XII Malang

Dalam pementasan ini, sosok Mentari diperankan oleh perempuan—pilihan yang sempat memunculkan pertanyaan dari penonton. Namun, dinilai Sukma, keputusan tersebut berangkat dari pendekatan artistik yang ingin dibangun.

“Menari sering diasosiasikan dengan perempuan, dan kebetulan pemeran Mentari juga seorang penari. Selain itu, saya juga teringat sosok ibu yang memberi kehangatan dan menerangi jalan hidup,” ungkapnya.

Dari sisi persiapan, GSSTF menghabiskan waktu sekitar lima bulan, terdiri dari dua bulan proses kurasi dan tiga bulan persiapan produksi hingga keberangkatan ke Malang. Meski demikian, Sukma menilai timnya telah siap sejak jauh hari.

Menurutnya, keikutsertaan dalam Festamasio tidak semata soal meraih penghargaan. Panggung Festamasio menjadi ruang untuk berkarya sekaligus bertemu dengan kelompok teater lain dari berbagai daerah.

“Penghargaan itu kami anggap sebagai bonus. Kami ingin berkarya dengan senyum yang menempel di wajah dan kami rasa semua sudah tercapai. Semuanya kami kembalikan kepada tuhan yg maha esa,” tuturnya.

Hal serupa juga ia sampaikan saat menanggapi hasil pementasan yang telah ditampilkan. Alih-alih menitikberatkan pada evaluasi teknis, ia lebih melihat pengalaman tersebut sebagai bagian dari perjalanan berkesenian.

Pementasan Tari Mentari menjadi salah satu cara GSSTF membaca isu relasi manusia dan alam melalui pendekatan simbolik. Di tengah beragam gaya yang hadir dalam Festamasio XII, karya ini menawarkan tafsir yang berangkat dari mitologi, tubuh, dan pengalaman personal penciptanya. (ber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *