Soroti Dampak Industrialisasi, Teater Kafe Ide Tampil Memukau di Festamasio XII Malang

berrbahagia.com – Teater Kafe Ide dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, turut unjuk gigi dalam ajang Festamasio XII yang menampilkan pementasan bertajuk Igau Ing Pinggir di Sasana Krida Universitas Negeri Malang, Rabu (22/4/2026). Karya ini mengangkat isu ekologi, sosial, hingga dampak industrialisasi di Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang.

Pementasan tersebut disutradarai oleh Dafoe Lagaligo Pudenta, yang menjadikan riset lapangan sebagai dasar utama dalam proses penciptaan karya. Bojonegara dipilih sebagai representasi wilayah pesisir yang mengalami tekanan akibat industrialisasi.

Dafoe menjelaskan, proses penelitian telah dilakukan sejak Oktober 2025 hingga Maret 2026. Sejumlah kunjungan lapangan menjadi bagian penting dalam pengumpulan data sebelum diterjemahkan ke dalam bentuk pertunjukan.

“Secara umum riset berlangsung hampir sepanjang proses garapan, dengan beberapa kali turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi di Bojonegara,” ujarnya.

Meski waktu persiapan terbilang terbatas, lanjutnya, tim tetap melanjutkan proses kreatif dengan mengolah data yang telah dihimpun.

Berangkat dari latar akademiknya di bidang ilmu kelautan, Dafoe mengaku memiliki kedekatan dengan isu yang diangkat. Ia menyusun proses kreatif yang dimulai dari studi literatur, penentuan objek, hingga observasi lapangan yang kemudian diolah menjadi materi artistik.

Pendekatan yang digunakan dalam pementasan ini cenderung non-linear, dengan menggabungkan metode riset dan eksplorasi bentuk teater kontemporer. 

Menurut Dafoe, Teater Kafe Ide mengadopsi metode riset Marco De Marinis serta pendekatan teater post-dramatik, yang memberi ruang pada berbagai elemen visual dan performatif untuk berkembang di luar struktur cerita konvensional.

“Pendekatan utama yang kami pakai adalah teater post-dramatik dari Hans-Thies Lehmann, dengan mencampurkannya dengan bentuk-bentuk teater lain seperti Jean-Francois Lyotard, Tadeusz Kantor, Yvonne Rainer, dan lainnya,” tuturnya.

Penampilan Teater Kafe Ide di Festamasio XII Malang

Penggunaan proyektor menjadi salah satu elemen yang menonjol dalam pementasan. Selain memperluas ruang dan waktu di atas panggung, medium tersebut juga dimanfaatkan sebagai bagian dari penyampaian data yang mendukung narasi.

Eksplorasi olah tubuh turut dihadirkan melalui penggunaan tari butoh yang menekankan pada sisi gelap manusia. Pendekatan ini digunakan untuk memperkuat atmosfer sekaligus memperdalam tafsir terhadap realitas yang diangkat dalam karya.

Melalui Igau Ing Pinggir, Teater Kafe Ide berupaya menyampaikan berbagai kondisi yang terjadi di Bojonegara, mulai dari persoalan ekologi, sosial, hingga dinamika kebijakan yang memengaruhi kehidupan masyarakat.

Dafoe menyebut, keikutsertaan dalam Festamasio XII tidak hanya dimaknai sebagai ajang tampil, tetapi juga sebagai kesempatan membawa pulang pengalaman bagi kelompoknya.

“Target kami tentu ingin membawa sesuatu kembali ke Banten, baik itu penghargaan, nominasi, ataupun pengalaman,” harapnya.

Meski demikian, ia melihat proses penciptaan karya tidak berhenti pada satu pementasan. Data dan temuan yang telah dikumpulkan dinilai masih membuka kemungkinan untuk dikembangkan lebih lanjut dalam bentuk karya yang berbeda.

“Menurut saya manusia tidak pernah benar-benar merasa puas. Data-data yang kami dapat masih sangat mungkin untuk dikembangkan menjadi pementasan yang lebih menarik lagi,” pungkasnya. (ber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *