Vokalis band rock legendaris Radiohead, Thom Yorke, menyatakan penolakan tegas untuk kembali tampil di Israel selama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berkuasa. Sikap ini menandai pergeseran signifikan dari kontroversi konser band tersebut di Tel Aviv pada 2017.
Dalam wawancara eksklusif dengan The Sunday Times yang terbit Minggu (26/10), Yorke secara spesifik menyebut bahwa ia “enggak bakal” berada “5000 mil lebih dekat dengan rezim Netanyahu.” Pernyataan keras ini datang setelah Yorke menghadapi kritik bertubi-tubi dari aktivis pro-Palestina atas sikapnya yang dianggap bungkam terhadap konflik Gaza.
Sikap Yorke saat ini sangat kontras dengan keputusannya pada tahun 2017, ketika Radiohead tetap menggelar konser di Tel Aviv, Israel, meskipun menghadapi seruan boikot dari gerakan Boycott, Divestment, Sanctions (BDS) dan tokoh-tokoh penting seperti Roger Waters.
Kala itu, Yorke membela diri dengan menegaskan bahwa “Manggung di satu negara enggak sama dengan mendukung pemerintahnya,” berargumen bahwa musik adalah tentang melintasi batas, bukan membangunnya.
Namun, pengakuan Yorke dalam wawancara terbaru mengindikasikan adanya penyesalan. Ia mengaku ngeri setelah didatangi oleh “orang penting” di Israel yang berterima kasih usai konser, menyiratkan bahwa penampilannya saat itu berpotensi dimanfaatkan sebagai art-washing bagi pemerintah Israel.
Reaksi Penggemar: Kejelasan yang Terlambat, Tapi Melegakan
Keputusan Thom Yorke untuk secara terbuka menolak tampil di bawah bayang-bayang rezim Netanyahu disambut dengan perasaan lega bercampur kritik oleh sebagian besar penggemar.
Banyak pendengar setia Radiohead, yang dikenal memiliki basis kritis, sebelumnya merasa kecewa atas apa yang mereka anggap sebagai “kebungkaman yang menyakitkan” selama eskalasi konflik di Gaza.
Penolakan terang-terangan terhadap rezim Netanyahu dilihat sebagai pernyataan politik paling kuat yang pernah dibuat Yorke. Bagi sebagian penggemar, penegasan Yorke bahwa ia tidak ingin dekat dengan rezim tersebut merupakan kejelasan moral yang telah lama ditunggu, sebuah pengakuan tidak langsung atas bobot politis dari penampilan mereka di Tel Aviv tujuh tahun lalu.
Perdebatan mengenai Israel ini semakin kompleks mengingat posisi gitaris Radiohead, Johnny Greenwood. Greenwood, yang menikah dengan seniman Israel dan memiliki ikatan keluarga serta budaya di sana, tetap berpegang pada pandangan bahwa kolaborasi musik harusnya tidak dibatasi oleh politik.
Dalam wawancara yang sama, Greenwood menceritakan ia tetap menghabiskan banyak waktu di Israel dan enggak malu berkolaborasi dengan musisi Arab atau Yahudi. Keterlibatan ini menyoroti adanya perpecahan pandangan di dalam band, di mana meskipun Yorke telah mengambil sikap politik yang tegas, Greenwood tetap melanjutkan proyek musiknya, termasuk kolaborasi dengan musisi Israel, Dudu Tassa, yang telah menarik kritik dari gerakan BDS.
Sikap Yorke yang secara eksplisit menargetkan “rezim Netanyahu” menunjukkan upaya untuk memisahkan apresiasi terhadap budaya dan masyarakat Israel dari kebijakan pemerintahnya.
Namun, penolakan tegas untuk kembali tampil setelah penyesalan atas konser 2017 menjadi titik balik, yang diharapkan para penggemar sebagai sinyal bahwa Radiohead kini memegang garis moral yang lebih jelas dalam menghadapi isu-isu kemanusiaan global.
Penulis : Nabil Hibrizi