Teater Yupa Tutup Festamasio XII dengan “Wehea(?)”, Ceritakan Konflik Keluarga dan Isu Alih Fungsi Lahan

berrbahagia.com – Suasana Sasana Krida Universitas Negeri Malang menegang saat Teater Yupa Universitas Mulawarman menutup rangkaian pementasan Festamasio XII, Kamis (23/4/2026). Pasalnya, Teater Yupa menghadirkan pertunjukan bertajuk Wehea(?) yang menghadirkan konflik keluarga di tengah persoalan alih fungsi lahan, dengan set rumah yang mendominasi panggung sejak awal hingga akhir.

Cerita dibangun dari dinamika keluarga yang semula berjalan ringan dengan selipan komedi, sebelum perlahan mengarah pada konflik yang semakin intens. Ketegangan memuncak ketika tokoh anak laki-laki dituduh oleh ayah dan adiknya telah menandatangani pengalihan lahan menjadi kawasan industri dengan memalsukan tanda tangan sang ayah.

Situasi semakin memanas saat sang ibu mencoba membela anaknya. Perdebatan yang terjadi berubah menjadi pertengkaran hebat hingga berujung pada tindakan kekerasan ketika sang ayah menampar ibu. Dalam tekanan tersebut, anak laki-laki akhirnya mengakui perbuatannya, yang justru memperuncing konflik. Pementasan ditutup dengan amarah sang ayah yang mengambil parang dan berupaya menyerang anaknya.

Disutradarai oleh Febriana Dirot, Wehea(?) berangkat dari realitas masyarakat di Kalimantan Timur, khususnya di Kabupaten Kutai Timur. Judul tersebut diambil dari nama salah satu suku Dayak yang mendiami wilayah tersebut.

Febriana menjelaskan, naskah ini lahir dari keresahan masyarakat terkait alih fungsi lahan akibat ekspansi industri. Isu tersebut kemudian dihadirkan melalui konflik keluarga yang bersinggungan dengan adat dan lingkungan.

“Kegelisahan yang ingin kami sampaikan adalah masyarakat yang mulai kehilangan tempat hidupnya. Desa terhimpit oleh perkebunan, dan itu menjadi ancaman bagi mereka yang masih menjaga lingkungan,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya terjadi di satu wilayah, melainkan juga dapat ditemukan di berbagai daerah lain dengan konteks yang serupa.

Penampilan Teater Yupa di Festamasio XII Malang

Berangkat dari tema “ekologi sosial” yang diusung dalam Festamasio XII, Teater Yupa memilih pendekatan yang menitikberatkan pada aspek antropologi sosial dan budaya. Wehea dipilih karena dinilai memiliki kekuatan dalam menghadirkan relasi antara manusia, adat, dan lingkungan.

“Naskah ini lahir dari realitas masyarakat setempat, meskipun secara universal kasusnya juga bisa terjadi di banyak tempat,” katanya.

Dari sisi produksi, proses persiapan diakui berjalan dalam waktu yang relatif singkat. Tim baru kembali berproses setelah libur semester, dengan waktu yang juga terpotong oleh momen Lebaran.

Meski demikian, mereka tetap memaksimalkan waktu yang ada hingga pementasan berlangsung. Febriana menilai, hasil yang ditampilkan telah sesuai dengan apa yang dipersiapkan selama latihan.

“Kami cukup puas dengan hasil pementasan. Semua sudah kami sesuaikan sejak proses latihan,” jelasnya.

Keikutsertaan dalam Festamasio XII juga dimaknai sebagai kesempatan untuk membawa pulang hasil terbaik bagi tim, baik dalam bentuk penghargaan maupun pengalaman.

“Harapannya tentu kami bisa mendapatkan yang terbaik untuk setiap bagian dari tim,” tuturnya.

Di luar panggung, pengalaman berada di Kota Malang turut menjadi bagian yang berkesan bagi Teater Yupa. Meski harus beradaptasi dengan suhu yang lebih dingin dibanding daerah asal, mereka mengaku tetap merasa nyaman selama mengikuti rangkaian kegiatan.

“Jujur, kami sangat nyaman di Malang. Walaupun harus menyesuaikan suhu dan sempat ada teman-teman yang sakit, tapi kami merasa betah berada di sini,” pungkasnya. (ber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *